|
Pagi kamis, (16/5) lingkungan Sekolah Perguruan Diniyyah Puteri, terjadi suatu peristiwa yang tak biasanya terjadi. Seluruh santri, heboh begitu melihat pemandangan menarik dari seorang perempuan cantik berbusana Kimono, pakaian khas ala Jepang plus lilit (jilbab ) dikepalanya melenggang dengan anggun. Dirinya pun melempar senyum kepada setiap santri yang dilewatinya. Jangan kaget dahulu, perempuan itu bukanlah warga negara matahari terbit yang sedang berkunjung ke Pesantren Khusus Puteri ini. Melainkan santri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang yang baru saja kembali dari negeri Jepang. Pakaian itu adalah hadiah dari orang tua angkatnya disana untuk kemudian diperlihatkan kepada teman-teman sebagai oleh-oleh dari Jepang. Kepergian sahabat kita yang bernama Nadiatul Hasanah tadi adalah atas undangan Japan International Cooperation yang bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga R.I, dalam paket Jenesys Program Kegiatan Persahabatan Siswa Jepang Asia Timur Abad 21 yang berlangsung dari tanggal 22 April sampai dengan 1 Mei 2008.
Puteri dari pasangan Anjaswan dan Syafrida itu termasuk yang beruntung. Soalnya santri kelas XI MAK -Kuliyatul Mualimat El Islamiyah ( Setingkat SMA) Diniyyah Puteri itu, satu-satunya utusan dari Pondok Pesantren Sumatera Barat yang mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri para kaisar. Nadia memang tidak sendirian lho, ada satu lagi sahabatnya dari siswi SMUN 1 Padang Panjang bersamanya, yang merupakan utusan Paskibra Sumbar. Total rombongan yang berangkat dari Indonesia dalam paket ini sebanyak 100 orang, dengan guru pendamping dan dari Pendamping Kementrian Pemuda dan Olah raga. Banyak pelajaran yang didapat kata muslimah yang jago bahasa inggris ini. Antara lain, orang Jepang itu pandai memanfaatkan waktu, tidak pernah terlambat lebih dari satu menit, kalau menghadiri undangan rapat, pergi ke sekolah atau ke kantor tidak lebih telat 1 menit. Kepribadian bangsa Jepang lainnya yang patut ditiru adalah suka menghargai orang yang sedang berbicara dan banyak lagi kebiasaan positif yang bisa dipelajari dan dicontoh. n” yang jelas disana tidak ada ojek lho “ ujarnya dengan setengah becanda. Tiba di Jepang pada hari selasa (22/04) setelah mengudara selama 7 jam. . Program kunjungan pertama mereka adalah ke istana Kaisar, kemudian pada hari selanjutnya ke Tokyo Tower (mirip menara Eifel di Perancis dengan ketinggian 10 m lebih tinggi dari Eifel). Habis itu, rombongan ke Museum EDO yang dikenal sebagai Global Expo tentang kebudayaan Jepang secara utuh. Hari Jumat, (25/4) rombongan menuju daerah Kagoshima yang berpenduduk 1,7 juta jiwa dengan luas wilayah 9.187 KM. Kota ini merupakan tempat wisata terkenal dan bersejarah di Jepang. Ada warisan dunia berupa gunung berapi Sakurajima, Hutan Hijau, Sumber air Panas, dan Sejarah Budaya yang khas. Dikota itu pula, terdapat sebuah pohon Cedar Jepang (Sugi) yang berumur 7200 tahun. Jejak kepahlawan pun dikenal dari kota yang kebanyakan warganya bertani ini, antara lain bernama Saigo Takamori, tokoh penting pada periode Restorasi Meiji, dan Togo Heichachiro, Panglima terkenal angkatan laut Jepang. Rombongan juga menyempatkan diri melihat Taman Mawar (Bara en) Kota Kanova. Inilah Taman Mawar terbesar dengan kualitas bunga Mawar nomor 1 di negeri Sakura. Kemudian mereka menyambangi SMAN Pertanian Kanova yang kini menginjakkan usia ke 114 tahun yang membolehkan siapa saja tamu datang memetik hasil kebunnya.sebagai hadiah untuk para tamu. Selanjutnya mereka meluncur menuju Kagoshima Municipal Science Hall, kumpulan daerah yang banyak memiliki zona khusus, seperti zona lingkungan dan teknologi, zona aerospace planetarium dan zona lainnya. Nadia dan kawan-kawan pun menyempatkan diri mendaki Gunung Api Sakurajima, bersama orang tua angkatnya (Host Family) bernama Shimoai. Sesampai dipuncak, dirinya kaget setelah melihat para pendaki rata-rata adalah orang tua berusia lanjut (diatas 50 tahun) dengan badan yang masih segar dan kuat. Ini menandakan orang Jepang itu pandai menjaga tubuh dan merawat diri . Yang menarik, Nadia juga mencoba ruangan simulasi gempa (Earth Quake Simulation Section), yang menunjukkan bagaimana cara melindungi diri dalam suasana gempa. Ruangan itu diisi oleh sepuluh orang kemudian bergoncang sesuai dengan skala yang diinginkan. Waktu mereka mencoba, diuji dengan skala 5 richter. Lumayan juga getarnya ungkap santri yang hobi travelling ini. Tidak hanya itu, simulasi badai pun dicoba juga. Mereka masuk lagi dalam sebuah ruangan dengan berpakaian mantel lengkap kemudian angin kencang disertai butiran hujan dan es jatuh menerpa tubuh peserta dengan sangat kencang, mirip yang asli. Kunjungan terakhir ke Panasonic Center, tempat penghubung komunikasi global perusahan grup Matsushita. Disini ada eksibisi produk-produk teknologi terbaru seperti mesin penghancur sampah, sistem lampu yang bersumber dari sinar matahari yang terintergrasi dengan bahan-bahan bangunan. Sistem pencahayaan Tower Hybrid Kazekamome yang menggunakan tenagan pembangkit angin dan sinar matahari. Keikutsertaan Nadia, menurut Waka kesiswaan KMI, Nike Budiarti Hamzah, SPd, mengungkapkan, merupakan kabar gembira bagi Diniyyah Puteri dan Sumbar pada umumnya kalau santri di pesantren pun punya kesempatan yang sama dengan siswa sekolah lainnya untuk studi Banding ke Luar Negeri. Sobat, eh ternyata, walau di Jepang itu negeri non muslim, dirinya tidak merasa risih lho dengan atribut muslimah yang dikernakannya selama disana. Bahkan naik gunung pun dipakainya tanpa ragu-ragu. Dan mimpi Nadia ke Jepang pun kesampaian akhirnya sebagaimana waktu kecil pernah bercita-cita kesana. Semoga partisipasi Nadia menjadi motivasi dan menjadi bukti bahwa peluang ke luar negeri untuk studi banding juga bisa diraih oleh para santri pondok pesantren lainnya. Nadia sudah membuktikan itu ? Selamat ya Nadia
|