|
Oleh. Ahmad Rifa’i,SP Tulisan Saudara Musriadi Musanif tiga hari lalu, yang dimuat dimedia ini dengan judul: Upaya Keras Aparatur Pemko Padang Panjang, telah menggugah banyak orang. Tak terkecuali, Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Sendiri, Fauziah Fauzan, merespon dengan positif apa yang dikandung materi tulisan itu. Selesai membaca tulisan tadi, Fauziah Fauzan langsung menggelar rapat terbatas dengan seluruh staleholder Diniyyah Puteri untuk mengevaluasi Prestasi Pondok Pesantren Se Padang Panjang, sebagaimana dalam tulisannya menyinggung Diniyyah Puteri dan Thawalib khususnya yang telah telah mengalami kemunduran beruntun sejak beberapa tahun terakhir. Materi tulisan itu, cukup objektif dan sangat pantas kiranya seorang Fauziah Fauzan dan tentunya kita, warga padang Panjang secara umum, mengucapkan terima kasih atas otokritik intelektual yang disajikan Musriadi Musanif. Memang benar, kita harus lebih terbuka terhadap kelemahan dan kegagalan pesantren dewasa ini. Sebagai shearing idea, kita akan bertanya; prestasi apakah yang telah menonjol ditorehkan Pesantren di kota Serambi Mekah sejak tiga tahun terakhir ? Pertanyaan lain juga diajukan, :apakah pesantren telah dijadikan sebagai tempat pendidikan utama bagi semua orang tua di Sumatera Barat untuk menyekolahkan anaknya ke Pesantren, atau justeru sebaliknya menjadi pelarian bagi anak-anak mereka yang bermasalah?
Boleh jadi, penyebab penampilan pesantren biasa-bisa saja, tanpa ada perubahan sama sekali dari tahun ketahun, karena dilatarbelakangi oleh pola pikir picik pandang pelakunya. Tak jarang pada posisi ini pula mereka tak lebih seperti katak dibawah tempurung;menganggap diri hebat dari yang lain. Kemudian ketika kemapanan itu dijalani, segala inovasi, penjagaan citra prestasi pesantren dan pembelajaran pesantren kearah metode baru sengaja dikesampingkan. Artinya segala yang baru selalu dianggap bertentangan dengan pola lama. Pola pikir kolot dan sempit ini yang hinggap. “Dari dulunya, pesantren di Padang Panjang, tanpa ada inovasi dan perubahan tetap bisa jaya, hingga detik ini,” ujarnya optimis. Sebuah alasan tak mendasar. Padahal kesuksesan instansi atau individu dalam berbagai kompetisi dimana pun di dunia ini adalah buah keberhasilan dari proses evaluasi berkala yang diterapkan disamping prinsip hidup belajar tiada henti juga dimiliki. Alhasil kesalahan masa lalu bisa dieliminir untuk kesuksesan masa depan. Istilah kerennya adalah prinsip ” Inovasi tiada henti”. Relevan dengan konteks sekarang, zaman yang kita jalani sesungguhnya tidaklah sama dengan zaman permulaan pendidikan pesantren di awal abad 1900-an. Paling tidak, ada tiga perbedaan kontras antara keberadan pesantren masa lalu dengan masa sekarang,dengan pembandingnya sekolah-sekolah unggulan negeri yang terus memperbaiki diri. Yaitu, Motif, metode belajar dan mengajar serta perangkat pembelajaran. Pertama Motif. dulu, anak-anak dikirimkan ke pesantren tiada lain untuk dibina menjadi calon ustadz-ustadzah yang diharapkan akan mengembangkan syiar islam di kampung halaman masing-masing. Sedangkan hari ini, motif pengiriman anak-anak tak lebih sebagai tempat pelarian dan pilihan terakhir dari semua pilihannya. Kadang juga bagi orang tuanya, pesantren sebagai harapan tempat mengubah perilaku akhlak anaknya yang sangat berandal itu agar berubah dipesantren. Kedua, metode belajar di dunia pendidikan umum, selalu mengalami perubahan kearah dinamisasi pengajaran; apakah metode training atau sejenisnya yang belakang diadopsi dan kembangkan seperti metode Pumping Teacher, dan Quantum Teaching untuk para guru, juga Quantum learning untuk para murid. Sebaliknya,pesantren tetap bertahan dengan pola pengajaran tradisionalnya. Mandek, kaku, tidak diminati dan selalu ketinggalan. Terakhir perangkat pembelajaran seperti sarana pendukung dalam mengajar kian hari kian canggih. Yakni memakai Lcd, Laptop dan OHP. Guru dalam melakukan transfer ilmu cukup dengan ujung jari, maka slide –slide materi terpampang di layar. Didukung dengan soundsystem dan film pembelajaran.Jadi belajar , dengan multi media, semakin menarik bagi siswa.
Sementara, faktor yang membuat pesantren selalu berada dilini belakang diantara sekolah-sekolah negeri lainnya adalah disebabkan enam faktor kesalahan fatal yang dibiarkan terjadi selama ini. Diantaranya, pertama, manejemen tradisional masih diterapkan di Pondok Pesantren bersangkutan. Seperti, prinsip otoritas tunggal kepemimpinan serta anti keterbukaan terhadap bawahan. Pada gilirannya telah menimbulkan letupan-letupan ketidaksenangan karyawan dan santri atas pola itu, sebagaimana yang terjadi disalah satu pesantren di Padang Panjang tempo hari. Kedua, Pola pembinaan asrama yang tidak ketat sehingga memudahkan santri yang seharusnya dikarantinakan agar tidak terinfeksi budaya-budaya luar nan merusak akhirnya mengidapi penyakit itu. Didalam kelas yang diajarkan lain, yang dipraktekkan lain pula. Didalam kelas, manut dengan guru, tapi diluar kelas, artis dan tokoh sinetron yang jelek perilakunya cendrung ditiru. Jadi pembinaan mental dan spritual keislaman menjadi nihil. Bukannya menciptakan santri berperilaku islami, tapi berperilaku rendahan. Ini akibat longgarnya pengawasan sehingga kian meneguhkan citra santri pesantren tidaklah beda dengan karakter preman. Ini jelas merugikan sekali bagi nama baik pesantren tersebut. Ketiga, Miskinnya prestasi akademis santri di Ujian Nasional, kemudian miskin pula prestasi Intelektual disetiap even perlombaan makin meminggirkan keberadaan pesantren. Melambungnya nama besar pesantren sebenarnya disumbangkan dengan kedua prestasi diatas berikut jumlah lulusannya yang diterima di Luar Negeri (Al Azhar Mesir) dan Universita ternama di Republik ini. Keempat, Proses penyeleksian santri yang terkesan longgar. Asal siapa saja yang mendaftar langsung diterima tanpa seleksi perilaku dan rekaman prestasi belajarnya. Kalau ingin prestasi belajar anak itu bagus selama dipesantren, yang diterima itu harusnya anak-anak cerdas dan berperilaku sopan, Tidak mungkin mengharapkan santri juara tetapi dari anak-anak yang bodoh dan tidak mau belajar alias pemalas. Kelima, Kualitas guru yang mengajar jauh dari yang diharapkan; tidak punya target sama sekali. Berikut juga kualitas kerja yang sambilan, tidak fokus dan serius. Asal mengajar, materi sampai, selesai sudah pekerjaan.Bagaimana mungkin seorang guru tak bermutu, mampu melahirkan santri bermutu. Harusnya seimbang. Guru yang cerdas bertemu dengan santri yang cerdas pula, maka menghasilkan pesantren yang berprestasi. Konsep ini sebenarnya selalu dijaga oleh pesantren masa silam dengan keberadaan ulama cerdas dengan santri yang cerdas pula. Jadilah santri dikemudian hari menjadi seorang tokoh nasional, tokoh masyarakat dan orang sukses.Benarlah hipotesa itu;ditangan ulama yang cerdas akan menghasilkan santri yang cerdas pula. Tapi keseimbangan tadi tidak mampu dipertahankan oleh pesantren hari ini. Terakhir Pengelola tidak sudi melakukan inovasi dan kreativitas dalam pengembangan pondok pesantren tersebut. Misalnya Sulit menerima ide baru yang disampaikan bawahan. Menganggap kritikan sebagai yang menakutkan. Selanjutnya tidak mau memanfaatkan kelebihan teknologi untuk kemajuan lembaga pesantrennya. Karena alasan inilah pesantren selalu terbelakang posisinya. Tidak dilirik lagi oleh orang tua santri karena memang tidak menarik. Kendati, Enam faktor diatas telah menelikung pesantren pada umumnya, maka di Perguruan Diniyyah Puteri tidaklah demikian. Mulai manajemen yang diterapkan hingga program inovasi tiada henti terus berlanjut menuju kesempurnaan. . Pertama, Sejak era kepemimpinan Fauziah Fauzan, Diniyyah Puteri telah mengalami perubahan signifikan yang membawa warna baru. Dengan konsep Re-Engineering Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan menerapkan manajemen perusahaan di pesantren yang dipimpinnya. Tidak hanya target akhir, juga dalam pelaksaan kerja, masing-masing unit dipandu oleh Satuan Operasional Prosedural, layaknya sebuah perusahaan Nasional. Kedua, pembinaan santri puteri di asrama semakin diperketat. Tidak boleh keluar asrama secara sembarangan. Ini adalah follow up dari pembinaan pasca di dalam kelas. Jadi pola pembinaan adalah menyeluruh dan menerapkan standar yang sama antara di dalam lokal dengan di asrama. Ketiga, tahun ini, Presatsi Akademis Diniyyah Puteri mulai bersinarr cemerlang, lantaran dua orang santrinya diterima Di ITS, di Malang.....Ini menandakan santri Diniyyah Puteri bukanlah santri miskin prestasi. Keempat, Sejak setahun lalu, hingga sekarang, tidak semua calon santri yang bisa msuk ke diniyyah puteri. Paling tidak ada tiga tes yang dilakukan. Termasuk tes juga diberlakukan untuk orang tua santri. Sepertinya kini hanya menerima anak-anak yang redas dan paham dengan ajaran islam. Kelima, Para guru akan di uji secara berkala oleh para pembina olimpiade yang diperlombakan, untuk mengatakan layak tidaknya seorang guru mengajar santri. Jika ia sendiri tidak bisa menuntaskan soal, maka tidak akan dipakai lagi untuk selanjutnya. Terakhir, inovasi tiada henti sepertinya hari ini milik Diniyya Puteri. Setelah sukses mendirikan unit Diniyyah Training Centre dan Diniyyah Information Technology Centre, ditahun 2008 akan didirikan Diniyyah Konselling Centre. Semua lembaga itu dibangun sebagai pendukung kekuatan perguruan Diniyyah Puteri. Sehinga tidak salah, jika Fauziah Fauzan dengan konsep inovasi tiada hentinya, sedang mengelola pesantren dengan konsep manjaemen perusahaan dan sebuah universitas. Hari ini belum ada pesantren yang punya lembaga training pengembangan diri yang mapan, kecuali Diniyyah Puteri telah memulai. Tak tanggung, telah belasan klien telah diservice oleh lembaga tadi. Satu diantara kliennya adalah PDAM Padang Panjang dengan pelatihan EQ Mapp Solution dua gelombang. Menyusul pesantren Ummatan Wasathon sulit Air, MTI Peninggahan Solok dan Lainnya.. Sedangkan DITC, adalah lembaga yang dikhususkan untuk mengelola IT dilingkungan Diniyyah. Sistem SMS fush kini diterapkan.Sebuah kemudahan bagi orang tua santri untuk bisa mengetahui nilai Rapor dan perilaku anaknya lewat SMS push yang dikelola lembaga ini.. Kini Diniyyah Puteri sedang berbenah mengejar ketinggalannya, Semoga sukses. Amiin.
|