Author : Ahmad Rifa’i, SP Memasuki abad berteknologi tinggi, yang ditandai dengan sarat perubahan perdetik, sepertinya telah menengelamkan banyak lembaga yang tidak sudi melakukan penyesuaian diri. Tak terkecuali lembaga pendidikan pesantren masa lalu yang kini masih eksis, kendati nafasnya hampir habis, tetap berupaya bertahan dengan segala kekuatan yang ada. Apa daya, kini satu persatu, lembaga pesantren yang dikenal diawal abad 19 di Padang Panjang mulai berguguran laksana daun kering dimusim kemarau. Memang benar, Pesantren hari di Sumatera Barat secara umum-meminjam istilah Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan- Almarhum secara perlahan tapi pasti. Dan ini merupakan pukulan telak terhadap keberlangsungan program cetak biru para calon ustaz dan tokoh dari pesantren akan berakhir masanya. Membedah persoalan apa yang terjadi di Pesantren tersebut, kita harus lebih terbuka terhadap kelemahan dan kegagalan yang dialami. Sebagai shearing idea, kita akan bertanya; prestasi apakah yang telah menonjol ditorehkan Pesantren di kota Serambi Mekah sejak tiga tahun terakhir ? Pertanyaan lain juga diajukan, :apakah pesantren telah dijadikan sebagai tempat pendidikan utama bagi semua orang tua di Sumatera Barat untuk menyekolahkan anaknya ke Pesantren, atau justeru sebaliknya menjadi pelarian bagi anak-anak mereka yang bermasalah?
Boleh jadi, penyebab penampilan pesantren biasa-bisa saja, tanpa ada perubahan sama sekali dari tahun ketahun, karena dilatarbelakangi oleh pola pikir picik pandang pelakunya. Tak jarang pada posisi ini pula mereka tak lebih seperti katak dibawah tempurung;menganggap diri hebat dari yang lain tanpa lupa membawa-bawa kebesaran masa lalunya., tapi miskin prestasi. Bahkan namanya pun kian redup secara permanen. Parahnya ketika kemapanan ”piciuk pandang’ itu dijalani, segala inovasi, penjagaan citra prestasi pesantren dan pembelajaran pesantren kearah metode baru sengaja dikesampingkan. Padahal kesuksesan instansi atau individu dalam berbagai kompetisi dimana pun di dunia ini adalah buah keberhasilan dari proses evaluasi berkala yang diterapkan secara serius. Disamping itu, prinsip hidup belajar tiada henti juga ditanamkan untuk menjaga kejayaan itu supaya tidak sirna. Itu juga menjadi cara lain bagaimana mengelola kesalahan yang dieliminir untuk meraih kesuksesan masa depan. Istilah kerennya adalah prinsip ” Inovasi tiada henti”. Relevan dengan konteks sekarang, zaman yang kita jalani sesungguhnya tidaklah sama dengan zaman permulaan pendidikan pesantren di awal abad 1900-an. Paling tidak, ada tiga perbedaan kontras antara keberadan pesantren masa lalu dengan masa sekarang,dengan pembandingnya sekolah-sekolah unggulan negeri yang terus memperbaiki diri. Yaitu, Motif, metode belajar dan mengajar serta perangkat pembelajaran. Pertama Motif. dulu, anak-anak dikirimkan ke pesantren tiada lain untuk dibina menjadi calon ustadz-ustadzah yang diharapkan akan mengembangkan syiar islam di kampung halaman masing-masing. Sedangkan hari ini, motif pengiriman anak-anak tak lebih sebagai tempat pelarian dan pilihan terakhir dari semua pilihannya. Kadang juga bagi orang tuanya, pesantren sebagai harapan tempat mengubah perilaku akhlak anaknya yang sangat berandal itu agar berubah dipesantren. Kedua, metode belajar di dunia pendidikan umum, selalu mengalami perubahan kearah dinamisasi pengajaran; apakah metode training atau sejenisnya yang belakang diadopsi dan kembangkan seperti metode Pumping Teacher, dan Quantum Teaching untuk para guru, juga Quantum learning untuk para murid. Sebaliknya,pesantren tetap bertahan dengan pola pengajaran tradisionalnya. Mandek, kaku, tidak diminati dan selalu ketinggalan. Terakhir perangkat pembelajaran seperti sarana pendukung dalam mengajar kian hari kian canggih. Yakni memakai Lcd, Laptop dan OHP. Guru dalam melakukan transfer ilmu cukup dengan ujung jari, maka slide –slide materi terpampang di layar. Didukung dengan soundsystem dan film pembelajaran.Jadi belajar , dengan multi media, semakin menarik bagi siswa. Semoga, Stakeholder pesantren mulai introspeksi diri untuk mendulang kejayaan msa depannya. Amiin.
|