Belum terdaftar ?


 
Hilangnya Karakter Ulama Pejuang di Ranah Minang PDF Cetak E-mail
, di Upload oleh ahmad rifai   
Monday, 24 May 2010
Daya tarik  tersendiri  yang melekat  pada profile  Ulama Besar Ranah Minang masa lalu adalah terletak dari konsistensi perjuangan  dan  ketegasan prinsip hidupnya  dalam menyebarkan dakwah.    Dua hal itulah yang membuat sejarah mereka tetap hidup  dan namanya abadi sepanjang masa  walau mereka sendiri telah mati.             Konsistensi perjuangan, adalah semacam bentuk kekukuhan dan kekokohan dirinya dengan segenap jiwa raga untuk selalu memperjuangkan agama dan ummat diatas  segala harta dan jiwa -raganya.    Bukankah ini sebuah prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri dan menjadi cermin tauladan bagi ulama-ulama sesudahnya,  karena ulama  merupakan  tulang punggung  ummat dan simbol keteladanan zaman. Berjalan di rel perjuangan, memang terasa berat, bahkan  melelahkan, hingga tidak sedikit yang mencoba keluar dari rel itu setelah tidak  sanggup  lagi   berada di bawah tekanan dan ujian kehidupan.  Akhirnya ia   takluk dan mengaku kalah dengan keadaan.              Dari proses ujian seperti itu, akhirnya terseleksilah mana Ulama yang sebenarnya berjati diri emas dan mana yang Ulama yang berkarakter loyang.   Proses telah memanggang mereka sehingga keluarlah  siapa sesungguhnya yang pantas dan layak disebut sebagai sosok da’i pejuang atau Ulama  pewaris nabi (Ulama Warassyatul Anbiya’)            Dan karakter itu berjiwa Emas itu   ada  pada diri Haji Rasul (Ayahanda Buya Hamka), yang tidak mau takluk pada rezim Jepang yang mengharuskan para ulama di tahun 1943-an di Bandung untuk melakukan ritual Seikerei,  membungkukkan badan  ke matahari terbit, disaat banyak ulama yang hadir melakukan perintah itu.  Karena Dia punya karakter pejuang yang kritis, sejarah hidupnya, juga  tidak lepas dari bayang-bayang pengawasan  penguasa.  Dikuntit serta diawasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda, di tahun 1930-an dan ditekan  dimasa penguasa Jepang.             Konsistensi perjuangan, juga diwarisi oleh anaknya, Prof Buya Hamka, yang mengeluarkan fatwa haramnya mengucapkan Natalan  bagi Umat Islam kepada non muslim yang berakibat ia terjengkal dari posisi Ketua MUI ditahun 1980-an.  Dua puluh tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 1964-an, Ia  pernah difitnah oleh Presiden Soekarno hingga harus mendekam di dalam penjara selama dua  tahun empat bulan ( 20 Agustus 1964-23 Januari 1966),             Tidak hanya, Hamka, ulama kharismatik lain, adalah Moh. Natsir, yang tak kenal lelah menyiarkan dakwah  hingga hari tuanya memagari akidah ummat,   setelah kenyang menjadi bulan-bulanan pemerintah Soekarno dan Soeharto,   karena selalu berseberangan ide dengan rezim yang berkuasa.             Mereka bukanlah orang-orang yang aman  secara finansial.   Bukanlah orang-orang yang hidup dari dakwah,    dan selalu berharap menerima upah dari masyarakat yang mengundangnya untuk berceramah.  Tapi, mereka  sebenarnya yang menghidupkan dakwah.  Tidak saja memberikan sumbangan pikiran dan jiwa, tetapi, juga hartanya hingga mereka tidak punya sesuatu yang akan diwariskan kepada keluarga dan masyarakatnya, kecuali ilmu agama.              Dari manakah mereka hidup seandainya mereka tidak menerima uang pemberian jamaah pengajian?   Tentu saja, mereka tidak sekedar mengharapkan itu semua, bahkan mereka mencari biaya dengan pekerjaan intelektual lainnya agar dakwah bisa hidup.   Kalau mereka mengajar dan menjadi dosen, jerih payah intelektual  juga layak diberikan. Juga sama dengan berceramah, cuma pemberian jamaah itu dianggap sebagai bunga rampai kehidupan,  ada diterima, tidak ada, tidak dicerca.    Mereka sadar, itu  bukan tujuan utama berdakwah sebagaimana  niat ulama dan penceramah kita hari ini, yang  terpaksa hidup dari sana. Disamping itu, mereka juga adalah Ustadz yang turut membina santrinya di madrasah, sekolah.  dan sebagai dosen, yang mengajar diruang kuliah.   Juga mampu  menuangkan ide dengan menulis di media massa.   Bahkan  menulis buku, seperti  Buya Hamka, Natsir dan lainnya.  Gambaran hidup mereka, tidaklah seperti kehidupan ulama masa sekarang yang rumahnya bergelimang harta.    Dapat asuransi jiwa,  dipinjamkan mobil berplat merah.   Punya asisten yang distandbykan sewaktu-waktu bila jadwal ceramah agak padat, apalagi pada bulan ramadhan.  Jika kita berkaca, Ulama masa lalu, mana ada seperti itu.   Kehidupannya saja agak morat-marit,  tapi  mereka  tidak  merasa  serba kekurangan dan merasa tidak hidup miskin.  Karena  mereka  sadar, bahwa hidup itu bukanlah untuk mencari harta, tetapi menyiapkan bekal untuk akhirat kelak selagi  masih berada diatas dunia.             Sayangnya, warisan dari para ulama masa lalu itu, terputus pada generasi orang-orang yang mendakwakan dirinya sebagai ulama pada masa  sekarang.  Mereka, menjadi ulama lantas  mendekatkan diri kepada Penguasa.  Tak jarang menjadi ulama birokrat, yang menjadi stempel pemerintah untuk menenangkan masyarakat.  Mudah takluk dengan harta dan takut pada penguasa. Tak jarang juga menutup mata dengan lingkungannya sendiri dan abai dengan amar makruf nahi mungkar di sekitarnya.  Dimesjid  ia terlihat garang dan berani,  selepas itu ia tidak bernyali.Parahnya profesi  ulama  itu telah menjadi tugas rutinitas harian layaknya pegawai pemerintah.  Kemana saja  pergi berceramah, selalu amplop dan uang jalan telah tersedia seperti yang diutarakan oleh   seorang Ustadz (mungkin ia juga mendakwakan dirinya ulama) yang juga punya pondok pesantren,  yang mengatakan bahwa dirinya  beruntung menjadi Ustadz PNS, sehingga  tidak pusing  memikirkan uang,    karena nasibnya sudah ditentukan oleh amprah gajian bulanan.    Bayangkankan jika seorang ulama berpikir demikian  ?            Tidak hanya itu,  diantara mereka untuk berinfaq menghidupkan organisasi dakwah susahnya minta ampun.       Wajar bila, ummat ini rapuh, karena para teladan mereka juga sangatlah rapuh.  Tidak punya prinsip dalam hidup, dan tidak punya semangat untuk berjuang (dan berinfaq).    Kita juga menyadari, hidup dizaman sekarang, tidak akan lepas dari uang, tetapi, kehidupan mereka dengan posisi sebagai pimpinan  pondok pesantren, tidaklah lebih miskin dari ulama-ulama sebelumnya.    Mungkin,   banyak fasilitas yang diperoleh melebihi yang dibutuhkan. Apa salahnya, disatu waktu, kelebihan itu diinfakkan untuk dakwah  agar menjadi amal. Lewat  peristiwa itu  seharus dapat direnungi, bahwa, pada hati dan diri mereka jika mengklaim sebagai da’i, harusnya porsi yang dibesarkan itu, kalau untuk kepentingan dakwah adalah porsi suka memberi secara ikhlas, mudah-mudahan dengan cara ini, Allah lapangkan urusan mereka.  Bukankah, dakwah itu harus dihidupkan oleh da’i dan ustadznya, bukan  harus hidup dari lahan dakwah,  atau  hidup dari mimbar ke mimbar mesjid.     Sekali-kali, harta juga diberikan sesuai porsinya.    Jika tidak, samalah kita dengan kaum  Bani Israil( kaum Yahudi ), yang tidak melaksanakan apa yang diketahuinya;  mereka  menyuruh orang berinfakkan harta, tetapi mereka  sendiri enggan melakukannya  sehingga mereka dilaknat oleh Allah SWT dan dibuang sepanjang masa. Pertanyaannya, apakah  kabar ini sudah sampai kepada mereka (Ulama dan da’I kita) ?  Kordinator  Masyarakat Pemerhati Pondok Pesantren Sumatera Barat (KMP3-SB), Staf Diniyyah Research Centre dan Staf Pengajar STIT Diniyyah Puteri .
Comments (0)Add Comment
Write comment
 
  smaller | bigger
 

busy
 
Sesudahnya >

Pesan

Pesan Baru: 3 minggu, 6 hari lalu
  • peace_2404 : eh hapal Mars DP gak??tolong email ke «email» donk...thx u cool
  • peace_2404 : ini Indah PS, masih ingat kan??
  • peace_2404 : emang pesona DinPut mencuri tempat tersendiri di hati alumninyaa.. Smile
  • peace_2404 : udhee, ainuunn..kangen euy...
  • udhe : apalagi sama aula dp, saksi kegilaan aZu wink
  • udhe : kangen juga nih cool
  • udhe : Assalamu'alaikum
  • ainun mardhiah : kangeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnn...
  • eytali : Kekuatan dinput mampu mengikat ingatan dan sentuhan perasaan terhadap dinput dilubuk sanubari setiap alumni.
  • eytali : Assalamualaikum semua. Smile
Silahkan Anda Login untuk mengisi pesan....

Kolom

Articles
Opini

Kalender Kegiatan

September 2010 October 2010
Mi Se Se Ra Ka Ju Sa
Minggu 35 1 2 3 4
Minggu 36 5 6 7 8 9 10 11
Minggu 37 12 13 14 15 16 17 18
Minggu 38 19 20 21 22 23 24 25
Minggu 39 26 27 28 29 30
There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Video Gallery

MUHASABAH

Photo Gallery




Gedung Utama

Search

Google

Jajak Pendapat

Bagaimana Menurut Anda Tentang Sistem Pendidikan Pesantren Di Indonesia ?
 

Jumlah Anggota

249 registered
0 hari ini
3 minggu ini
10 bulan ini
Terakhir: honyeffon

Pengunjung Online

Saat ini terdapat 9 pengunjung online

Kunjungan ke :

Today13
Yesterday41
Week95
Month265
All25395

Anggota Baru


honyeffon
06.09.2010 19:08:26

Stolenfinche
05.09.2010 23:31:58

tredognireeve
05.09.2010 12:11:46

Lomaamult
02.09.2010 19:56:24