|
Oleh . Ahmad Rifa’i,SP
Bertepatan, 29 Desember lalu, atau awal tahun baru islam, 1 Muharram 1430 H, pendiri Perguruan Diniyyah Puteri, Rangkayo Rahmah el Yunusiyyah genap diperingati 108 tahun. Sebagaimana lazimnya tiap tanggal itu, tiap tahun dijadikan sebagai momen yang tak terlewatkan bagi seluruh Stakeholder Perguruan. Lantaran ini adalah refleksi peringatan jejak sejarah seorang muslimah yang telah membuat Al Azhar guncang karena karya fenomenal sekolah khusus wanita yang didirikannya. Sekalipun Al Azhar University mengagumi keuletan Rahmah, tapi Ia tidak mendapat penghargaan dinegeri ini. Rekam jejak perjuangannya antara kombinasi profile pahlawan muslimah sejati dengan seorang jati diri ustadzah (guru), tersimpan rapi di file-file sejarah yang semuanya tidak mengupas sepak terjang wanita tangguh ini. Belakangan rahasia itu tersingkap, ketika ia telah meninggalkan dunia fana pada tanggal 26 Februari 1969, maka semua terpana karena kepergiannya. Tak pelak, banyak tokoh yang turut berbelasungkawa. Ada rasa kagum, bangga, terpesona dan haru dengan sikapnya. Penulis pun sempat mengumpulkan beberapa pendapat mereka, tentang Bunda Rahmah kala itu, antara lain:
Pertama, Prof. Buya Hamka. Ulama besar yang namanya tertambat mewangi dihati masyarakat Indonesia dan Malaysia ini, mengungkapkan perasaan haru dalam satu artikel khusus, yang dimuat di Harian Abadi Jakarta, 1 Maret 1969, 12 Zulhidjjah 1388 H, dengan judul Kenang-kenangan wafatnya Ibu Rahmah El Junusijah, Shahibatal Fadhilah as Saichah Hajdjah. Artikel itu ditulis, dua hari setelah Bunda Rahmah wafat. Dalam artikel sepanjang empat halaman quarto itu Ia menguraikan sejarah hidup Bunda Rahmah hingga masa wafatnya, termasuk penganugerahan gelar Syaikah ikut dikomentari Hamka. Menurutnya, “Gelar Syaikhah yang diberikan Universitas Al Azhar kepada Rahmah ini, adalah baru pertama kalinya diberikan kepada wanita islam.” Sedikit catatan Hamka, dipenghujung artikelnya menuliskan ungkapan hatinya : “ Dalam Hati Pejuang Islam di Indonesia, beliau adalah pahlawan, Bagi Minang Kabau, beliau Adalah Bunda Kandung, dan bagi Al Azhar University beliau adalah Shaibatal Fadlhlilah Asj Sjaichah Hajdjah Rahmah El Yunusijjah. Pikiran Hamka panjang, siapakah yang akan mengantikan posisi itu, dengan orang yang sekaliber dengan Rahmah, baik dari sepak terjang perjuangan, tabiat dan kesungguhannya mengurus pendidikan wanita dan dakwah islamiyah. Sebab Diniyyah Puterilah rujukan satu-satunya tempat pembinaan muslimah di dikawasan Sumatera hingga semenanjung Malaya. Ini terangkum diakhir Artikel itu, tulisnya ” Dan tempat yang beliau tinggalkan. Akan tinggal kosong entah berapa lama lagi, tak tahulah. Wa min hum man ga dha bahu, wa min hum man jantazhir, wa baddalu tadbilaa... .. Moga-moga Tuhan menempatkan beliau ditempat jang lajak. Wa hasuna ulaa-ika rafiqaa...!!!, Kebajoran Baru, 11 Zulhidjdjah 1388 H/ 28 Februari 1969 dari adiknya HAMKA. Hubungan baiknya dengan Bunda Rahmah, amat kental, bahkan, dalam artikel itu, panggilan khususnya kepada Rahmah dengan panggilan ”Kak Amah.” Wajar, karena antara Hamka menghabiskan masa kecilnya di kawasan di Bukit Surungan. Hamka juga pernah menjadi murid kakaknya, Zainuddin Labay. Disamping itu kawasan Thawalib School yang dibina inyiak Deer (Ayah Hamka), lokasinya juga berdekatan dengan Diniyyah Puteri, kala itu. Dan Hamka sendiri , tidak kurang sepuluh tahun lamanya menetap di Padang Panjang guna membesarkan Muhammadiyah dengan menjadikan Kauman sekarang sebagai pusat pergerakan Ormas terbesar di Indonesia itu. Sejarah Rahmah, juga diabadikan dalam bukunya ” Islam dan Adat Minang Kabau”. Disana ia menyinggung peran Zainuddin Labay pendiri Dinijjah School dan Rahmah El Yunussiyah, tentang ketekunan mereka berdua dalam membangun sebuah madrasah untuk kalangan pria dan wanita, yang kemudian hanya dilanjutkan oleh Rahmah dengan sekolah menyesalnya khusus wanita saja di Bukit Surungan Padang Panjang. Kedua, Muhammad Natsir . Mantan Perdana Menteri I, RI ini juga punya hubungan yang amat baik, bahkan bila M, Natsir berkunjung ke Diniyyah Puteri, dikala Rahmah masih hidup, dirinya tak segan meminta Rendang Buatan Rahmah sebagai menunya. Memang kala itu Rendang khas Bukit Surungan apalagi made in (buatan ) Rahmah sangat terkenal yang dicari oleh banyak orang. Sayang, ini tidak dilempar ke khalayak umum dalam dimensi bisnis oleh Rahmah. Barangkali untuk menjaga citra sekolah dan Perguruannya. Ketika Rahmah wafat, sang Ulama ini atas nama masyarakat islam Indonesia di Jakarta, melalui pembicaraan telepon dengan Gubernur Harun Zain menyampaikan pernyataan belasungkawa atas meninggalnya Rahmah El Yunusiyyah. Sama-sama dimaklumi, dalam epiode perjuangan, Bunda Rahmah adalah anggota MPR RI hasil pemilu 1955 sebagai utusan dari Sumatera Tengah mewakili Partai Masyumi dimana Muhammad Natsir juga pernah memimpin Partai itu dan sama-sama berjuang saat mengkoreksi pemerintahan Soekarno pada episode PRRI. Mereka sama-sama masuk hutan atas nama idealisme menentang paham komunisme dan kediktatoran Soekarno. Kala itu Rahmah sempat menjadi ketua Muslimat Masyumi untuk Sumatera Tengah. Tahun –tahun setelah itu, Natsir juga menyempatkan diri mengunjungi Diniyyah Puteri di waktu senggangnya. Ketiga, Prof. Harun Zain. Hari selasa, 25 Februari 1969, Bunda Rahmah, masih sempat berkunjung kepada Gubernur Harun Zain di Padang, didampingi oleh Fauzan Muda (Sekarang Prof Dr. Fauzan MA), untuk memintakan perhatian Pemerintah Daerah akan Perguruannya. Sebelum pulang ke Padang Panjang, Ia masih sempat berpesan kepada Gubernur ”Nafas saya sudah hampir habis, dan kepada Pak Gubernurlah saya mintakan perhatian atas sekolah saya itu. ”Gubernur terkejut dengan kata-kata ibu Rahmah itu dan kini menurut Gubernur, seakan-akan wasiatlah yang disampaikan almarhumah disaat beliau akan meninggalkan kita untuk selamanya, ungkapnya. ” Perjuangan almarhumah dibidang pendidikan dan dakwah, amatlah besar dan dari itu hendaknya walau beliau telah tiada, namun warisan beliau kita kembangkan terus. Ungkapnya. Selanjutnya anjuran gubernur kepada masyarakat umum, khususnya lembaga –lembaga pendidikan untuk menaikkajn bendera setengah tiang, sebagai ikut berduka cita atas meninggalnya pimpinan wanita tersebut. Penaikan bendera setengah tiang itu dilakukan selama tiga hari. Dimesjid, musholla dan surau dianjutkan pula untuk melakukan sholat ghaib untuk almarhumah. Inilah bunyi berita yang diturunkan dalam surat kabar Harian Angkatan Bersenjata, edisi Padang, 29 Februari 11 Zulhijjah 1388 H. Keempat, Aminuddin Rasyad (Dosen Syarif Hidatullah Jakarta dan Peneliti ) Aminuddin Rasyad Dalam pengantar Disertasi Doktornya, dengan topik, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang: 1923-1978, Suatu Studi Mengenai Perkembangan Sistem Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri- AL Jami’ah Al Islamiyah Al Hukumiyah ” Syarif Hidayatullah” Jakarta 1982 menuliskan: ”Universitas Al Azhar yang telah berusia lebih dari 1010 tahun dan merupakan pusat studi islam itu, baru mendirikan Kulliyatul Banat yang setipe dengan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang pada tahun 1962........ Begitu terkesannya Syekh Abd.Rahman Taj akan sistem pendidikan yang berlaku di Perguruan ini, ia meminta Rahmah el Yunusiyyah untuk berkunjung ke Al Azhar. Undangan rektor Al Azhar ini kemudian dipenuhi Rahmah dan pada tahun 1957 ia berkunjung kesana setelah selesai menunaikan ibadah hajinya. Dalam kunjungan tersebut, ia dianugerahi gelar kehormatan tertinggi dalam islam, yaitu” Syaikhah.” Biasanya gelar kehormatan ini diberikan kepada laki-laki muslim alim dan berjasa dalam pengmebangan adama islam dan disebut Syaikh. Menurut pengamatan Rektor Al Azhar, University Abd Rahman Taj, bahwa umumnya Perguruan agama yang didirikan di dunia islam adalah oleh laki-laki, tidak dilihatnya seperti di Minangkabau yang didirikan oleh wanita ” Jika kita menyimak buku Prof. G.H. Bousquet yang berjudul,” A French View Of The Netherlands Indies, diterbitkan Oxford University Press, London and New York, 1940, hal. 40 kita akan temukan pada kesan kagum, guru besar universitas Algiers ini, yang m melakukan kunjung ke Perguruan Diniyyah Puteri pada tahun 1933. Kekaguman Bousquet adalah ketika memberikan ceramah. Ia bertanya kepada murid-murid, apakah ia akan berbicara dalam Bahasa Belanda atau Bahasa Inggeris. Murid-murid serentak menjawab” Bahasa Inggeris”. Ia tidak menyangka bahwa murid-murid di Perguruan ini bisa berbahasa inggeris, Sementara yang populer pada masa itu adalah Bahasa Belanda. Menurut Aminuddin Rasyad yang juga putera asli Padang Panjang ini, sejarah Rahmah sengaja diulas dalam majalah Prisma edisi khusus, bulan Agustus 1970 dalam Rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan menurunkan judul, “ Rahmah El Yunusiyyah; Kartini Perguruan Islam” . Di tahun 1978, tulisan itu dicetak ulang bersama dengan beberapa karangan lainnya dibawah judul” Manusia dalam kemelut Sejarah dibawah Sidang Redaksi Taufiq Abdullah dari penerbit yang sama, termasuk Rahmah di dalam kupasan sejarah itu bersama, Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Amir Syarifuddin, Kahar Muzakkar, dan Soekarno. Kendati namanya terukir dalam buku itu, tetap saja, Rahmah belum dapat disejajarkan dengan mereka, sebab, gelar kepahlawanan nasional yang seharusnya disandangnya, sampai sekarang belum juga disematkan oleh pemerintah. Apakah kesempatan itu masih ada bila dosa sejarah keterlibatannya di PRRI, masih tetap membebaninya ?
|