Belum terdaftar ?


 
Diniyyah Puteri yang Kian Tacelak Bag. 2 PDF Cetak E-mail
, di Upload oleh reynold   
Sunday, 06 January 2008

(Kisah Sukses Kepemimpinan Fauziah Fauzan)

Oleh Ahmad Rifa’i,SP

Selanjutnya, Fauziah Fauzan (FF)  melakukan  pembenahan kebersihan lingkungan pondok pesantren, yang selama ini image yang terbangun dalam opini kita adalah serba kejorokan dan kekotoran, plus menjadi momok yang merugikan bagi  pondok pesantren itu sendiri. Tentu ini juga merendahkan kualitas  keislaman kita yang pada dasarnya Rasulullah mengajarkan sebaliknya untuk hidup bersih. Tapi kok dipusat pembinaan ummat (pesantren) kejorokan menjadi nomor satu.  Sepertinya kebersihan lingkungan kampus Diniyyah Puteri menjadi perhatian besar seorang Fauziah Fauzan.

Sebenarnya pengeliminasian siswa dan karyawan hampir bersamaan dengan membangun kehidupan lingkungan pesantren yang bersih dan asri. Dan ini sangat mencengangkan, sejak dibawah kepemimpinan FF, Perguruan  Diniyyah Puteri Padang Panjang, bila Anda memasukinya sekarang, maka nyaris tidak ditemukan sampah-sampah berserakan disekitar kampus.  Bahkan Anda akan kaget melihat kebersihan dan keasrian lingkungan sekolah dan asrama Diniyyah Puteri tersebut. Anehnya semua itu tanpa ada plang peringatan atau himbauan agar jangan sembaranga mebnuang sampah.. Kemana Fuaziah Fauzan belajar ? Sudah pasti berguru Ke Daarut Tauhid Bandung.  Rahasianya apa; jika para santri atau karyawan kedapatan membuang sampah sembarangan maka siap-sia untuk didenda oleh pimpinan. Terbukti ampuh dilapangan. Santri dan karyawan berpikir dua kali untuk membuang sampah disamping memang mereka telah didik dengan budaya hidup bersih.

Selanjutnya Ia melakukan sebuah program  yang ia sebut sebagai Re-enginering Pondok Pesantren-sebuah istilah dibidang komputer yang diterapkan di Diniyyah Puteri. Ciri aksi ini adalah  pembaharuan manejemen pondok pesantren yang memiliki standar operasional kerja yang tertuang ke dalam SOP di semua unit. FF menggunakan SOP sebagai standar dan acuan kerja.  Oleh karena itu manajemen Perguruan Diniyyah puteri hari ini dikelola seperti manajemen perusahaan profesional. Semua dari atasan hingga bawahan harus bekerja sesuai standar dan lebih profesional.

Kemudian dilanjutkan dengan  penambahan banyak unit pendukung dilingkungan pondok pesantren, seperti unit Usaha, Diniyyah Training Centre, Diniyyah Information Technologi Centre, Koperasi Syariah Pesantren, Konveksi Pesantren hingga target 2008 direncanakan membangun Diniyyah Konselling Centre. Sebuah terobosan yang belum sempat dilakukan oleh pesantren lain, namun Fauziah Fuazan telah dulu memulai.  Sangat jarang sebuah pesantren lengkap dengan segala unit  pendukungnya, kecuali Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Adapun unit usaha, cakupan geraknya adalah pengelolaan penginapan sekelas hotel melati yang dinamakan dengan wisma Syahidah. Di sini, sepenuhnya bagi tamu yang menginap disarankan menerapkan nilai-nilai keislaman selama memanfaatkan jasa penginapan ini.  Sudah banyak tokoh nasional yang mencoba menginap disini, Anggota DPR RI asal Sumbar, Irwan Prayitno salah satunya. Wisma ini sebenarnya diperuntukkan kepada orang tua santri, namun pada perjalanannya, melihat begitu minimnya penginapan yang mewadahi nilai-nilai islam, maka di go publikkan kepada  masyarakat umum. Disamping harga bersaing, pelayananya juga OK. Disamping itu, ada lagi usaha jasa Foto copy Ar Rahmah, Mini Market Amanah, Loundry dan Restoran (Cafe) berkah. Semuanya dibangun dan dikelola dengan profesional untuk melayani santri, orang tuanya dan khalayak umum.

Adapun kepentingan pendirian Diniyyah Training Centre dilakukan adalah sebagai sarana untuk penyampaian misi ketiga Diniyyah Puteri  ke masyarakat yakni: Merancang, mengembangkan dan memberikan pengajaran islam sebagai solusi kehidupan kepada masyarakat yang tidak sempat menimba ilmu disana.. Lewat lembaga training ini,
Fuaziah Fauzanbersama trainernya melakukan pencerahan  jiwa ke setiap instansi pemerintah, sekolah, remaja mesjid, mahasiswa dan masyarakat umum. Sudah lebih belasan klien yang ditraining oleh Diniyyah Training Centre. Tentu saja, pola pencerahan itu diformat seperti training yang dikelola lembaga training terapan lainnya yang dilengkapi dengan Lcd,soundsystem dan peralatan Games. Tak tanggung-tanggung, Diniyyah Puteri pun menyediakan ruang training eksekutif berkapasitas tiga puluh orang dan   aula sangup  menampung lima ratus orang plus penyediaan fasilitas penginapan islami. Semua dikelola dengan profesionalisme tinggi.

Tapi, sekalipun, Diniyyah Puteri telah berbenah, ternyata gaungnya tidak seindah namanya. Di Sumatera Barat sendiri, apalagi di pentas nasional. Diniyyah Puteri tidaklah dikenal orang. Mungkin karena minim publikasi atau memang tidak ingin diliput sama sekali. Tapi yang jelas, hanya Jiran kita Malaysia yang rajin mengunjungi Diniyyah Puteri. Sebab, disana nama Diniyyah Puteri harum semerbak mewangi, sehingga menimbulkan rasa keinginantahuan sebagian  mereka untuk berkunjung ke Padang Panjang. Terbukti, tujuh gelombang rombongan tetangga kita Malaysia datang kesini  di akhir tahun lalu, hanya untuk melihat Diniyyah Puteri dari dekat.  Realisasinya tiap tahun pula santri dari Malaysia, Singapura dan Thailand  ada yang menuntut ilmu disini.

Biar pun demikian, Fuaziah Fauzan dengan Diniyyah Puterinya telah memikat hati raja Brunei. Ditahun 2004 lalu,
Fuaziah Fauzan diundang oleh  sang raja dan diterima dengan bentangan karpet merah di Istananya. Sebuah penghargaan yang tak pernah diterima  oleh warga negara kelas bawah, kecuali Fuaziah Fauzan sendiri baru mengalaminya. Kenapa hal itu bisa terjadi. Jawabnya, sang raja terkesan dengan kebersihan lingkungan Diniyyah Puteri dan pelayanan profesional yang dilakukan saat menyambut sang raja dahulunya saat berkunjung ke Padang Panjang di tahun 2003 lalu. Akhir kata, semoga, Diniyyah Puteri tetap konsis dengan dakwah dan profesionalitasnya. Amiin.. ..

Comments (0)Add Comment
Write comment
 
  smaller | bigger
 

busy
 
< Sebelumnya   Sesudahnya >