|
(Kisah Sukses Kepemimpinan Fauziah Fauzan) Oleh Ahmad Rifa’i,SP Diniyyah Puteri (Diputi), kian tahun kian tacelak. Betapa tidak, sejak dibawah nakhoda Fauziah Fauzan (FF), perubahan demi perubahan semakin terasa menggelinding. Mulai pengeliminasian santri bermasalah sebanyak tiga ratus orang, hingga karyawan yang tak mencerminkan perilaku islami tak lupa untuk digusur. Tujuannya jelas, sebagai langkah pertama untuk menata dan membangun kembali kehidupan pesantren seperti diawal berdirinya, yang ditandai dengan hawa spritualitas lebih hidup tanpa meninggalkan ciri peradaban modrennya. Tentu saja langkah ini punya alasan mendasar, yaitu sebagai sebuah pusat peradaban dan pembinaan ummat, seluruh unsur yang akan mengkandaskan visi dan misi pesantren harus dibersihkan sesegeranya.. Memang sangat masuk akal, bila santri dan pegawai bermasalah, keberadaan mereka tetap dipertahankan, niscaya akan menimbulkan masalah bagi Diniyyah Puteri dikemudian hari. Lantaran tidak ingin menanggung resiko itu, keputusan harus diterapkan. Walau FF sendiri mendapat kritikan tajam dari Profesor pendidikan salah satu Universitas ternama di kota Padang yang tidak setuju dengan langkah itu. Tapi apa boleh buat, untuk memoles kembali Diniyyah Puteri agar tampil sebagai pusat pembinaan para calon uztadzah dan terdepan dalam menyebarkan dakwah, FF maju dengan program eliminasi itu. Ia pun pantang mundur, kendati para karyawannya menolak. Ini adalah resiko keputusan seorang pemimpin. Disaat bersamaan didukung oleh bawahan atau dikucilkan dalam lain kesempatan. Tujuan lain pembersihan ini juga sebagai cara membersihkan opini-opini buruk tentang lingkungan pesantren yang lebih dikenal kering dari ruhiyyah agama dan dakwahnya dari Stake holdernya. Agar tidak melekat ke Diniyyah Puteri, sebagaimana pesantren pada umumnya di Indonesia yang sudah kehilangan ruh dakwahnya, pengamalan nilai agama sebagaimana Rasulullah ajarkan harus dipraktekkan pula secara bersama-sama disini. Bukan teori melulu soal pengajaran agama tapi selaras akan perkataan dengan perbuatan yang diwarnai dengan alquran dan hadist..
Jika ingin mengaca pesantren mana yang lebih hidup ruh dakwah dan agamanya, maka coba tengoklah pesantren Daarut Tauhid yang didirikan Aa’Gym di Bandung. Atau contoh paling dekat dengan Pesantren Ar Risalah, Lubuk Minturun Padang yang dinilai memiliki level yang sama dari sisi ruh dakwah dan agama yang dimiliki Usernya(pelaku) dengan model Darut Tauhid.
Didua pesantren itu, amaliah ibadah dan pelayanan ummat dilakukan secara gencar oleh ustadz-ustadzah pesantren. Tidak hanya mereka mendidik santri secara standar Timur Tengah, di Arrsisalah juga keberadaan para ustadz memang terasa bermanfaat kemasyarakat tanpa harus menunggu para santri menjadi ustazd terlebih dahulu, lalu berdakwah di daerah asalnya. Tapi tidak, disini( Daarut Tuhid dan Arrisalah), semuanya adalah agen dakwah yang tiap hari memperbaharui keimanan lewat aktivitas bersama antara uztadz dan santri, untuk qiraah alquran bersama yang kontinyu, shalat malam yang rutin dan pengajian petang minggu yang permanen. Disamping itu mereka rajin menebar ilmu pencerahan jiwa kepada masyarakat dari seminar, mimbar dan sekolah..
Karena alasan itulah, FF ingin menghidupkan ruh dakwah di Perguruan Diniyyah Puteri. Sangat tepat proses pegeliminasian santri dan karyawan bermasalah ditempuh. Sebab itulah satu-satunya cara untuk memperbaiki citra pesantren beserta citra lulusan bermutu ditengah masyarakat.. Bermula dari santri dan karyawan yang sudi dibina dan berakhlak inilah, FF ingin menata kembali Perguruan Khusus Puteri tertua di dunia ini sebagai pesantren yang akan memproduksi para ustazdah-ustazdah terbaik yang berguna dimasyarakat nantinya. Logikanya, mana mungkin telur busuk akan sukses disulap menjadi telur mata sapi yang enak dimakan ?
Maka digulirkanlah program pembinaaan akhlak dan ruhiyah santri, FF sengaja memasukkan format pelajaran menghafal Alquran kepada Santri di Madrasah Ibtidaiyah Rahmah El Yunusiyah dan di Asrama. Cara lain adalah menggelar training mingguan(mentoring agama islam), bulanan hingga triwulanan dalam bentuk Outbond Training ysng dikelola satu lembaga tersendiri yang masih berada dibawah perguruan. Disini santri dibina dengan fromulasi training pengembangan diri. Ini dilakukan secara simultan dan telah menjadi program tahunan Diniyyah Puteri.
Karena alasan membina karyawan, FF sudi pula memboyong 90 orang karyawannya untuk belajar dan menimba ilmu ke pada Aa Gym di Bandung di awal tahun 2004. Persoalan pembinaan karyawan walau waktu itu harus menghabiskan dana sebanyak 300 juta, FF tak pernah merasa terbebani dengan anggaran perguruan hanya untuk perbaikan mentalitas dan moralitas karyawan. Penulis juga tak bisa membayangkan, sekiranya, pimpinan itu adalah penulis sendiri, niscaya uang sebanyak itu tidak akan dikeluarkan kalau memang membebani anggaran. Tapi, sekali lagi, ini adalah niat ikhlas dan demi dakwah agar hidup, di pondok pesantren yang dipimpinnya. Melalui resep motivasi versi Aa Gym, karyawan mulai berubah sedikit demi sedikit.
Besarnya perhatian FF terhadap pengisian ulang (Charger) jiwa dan akal karyawan, hampir tiap bulan, Ia mendatangkan Trainer dari Jakarta untuk berbagi ilmu dengan bawahannya. Ini dilakukan supaya, karyawan tetap semangat bekerja dan dapat ilmu pengembangan diri. Sepertinya dengan langkah training bulanan untuk karyawan ini, FF disamping memotifasi kerja, juga mencoba membawa alam berpikir orang Jakarta ke Padang Panjang, khususnya Diniyyah Puteri agar terbuka derngan perubahan, suka dengan tantangan dan berinovasi. Terakhir trainer yang diundang adalah Direktur Tustco Jakarta, BS Bowo, untuk mentraining 300-an karyawannya. Alangkah bahagianya para karyawan di Diniyyah Puteri yang mempunyai seorang pemimpin perguruan yang peduli dengan mereka.
|