Belum terdaftar ?


 
BEM STIT Diniyyah Puteri gelar Studium General Entrepreneurship PDF Cetak E-mail
, di Upload oleh reynold   
Saturday, 25 April 2009

Guna menambah wawasan bisnis mahasiswi, Badan Eksekutif Mahasiswa STIT Diniyyah  Puteri Padang Panjang, selasa (7/4) mengundang  pengusaha sukses dari Bandung, Jawa Barat, Drs.Asril Das, pemilik penerbitan dan toko buku Lubuk Agung Nasional.

Kegiatan stadium general ini  bertempat di Aula Perguruan Diniyyah Puteri.Para peserta yang diundang oleh  BEM STIT  meliputi BEM  STAIN Bukittinggi, STAIN Batu Sangkar, dan mahasiswa perguruan tinggi dikota Padang Panjang sendiri seperti BEM Akper Nabila  dan STSI Padang Panjang.

Sebagaimana disampaikan ketua BEM STIT Erwita Dewiyani, sebenarnya kegiatan ini sudah direncanakan jauhari, hanya saja waktu yang bisa dipenuhi oleh narasumber baru terlaksana pada tanggal tersebut.

Asril Das, perantau minang yang sukses dirantau orang ini  sesuai dengan gayanya yang ceplas –ceplos memaparkan sejarah suksesnya sebagai pengusaha. Instuisi bisnisnya diakui sudah ada sejak dari sekolah dasar. Pada usia itu dirinya mulai berani membuka jualan sendiri ;dimana ada keramaian, malamnya dia membuka jualan  keliling bermacam makanan ringan  hingga paginya sering mengantuk ketika berada di dalam kelas..

Sejak sekolah menengah atas, pemilik gerai buku yang tersebar di seluruh Indonesia ini tidak pernah meminta uang biaya SPP ke orang tuanya, justeru sudah memberi uang untuk kedua orang tuanya. Di kampungnya, Solok, pemuda usia SMA yang dapat dikatakan punya banyak uang hanyalah dirinya.

Setamat SMA, berniat merantau ke Jogjakarta, namun tertahan di Pekalongan Jawa Barat. Karena baru merantau, tidak punya kenalan kecuali tingga bersama pamannya. Dari sana setelah melihat aktivitas bisnis pamannya, semangat berdagang itu semakin menggebu.

"saya belajar berhemat dari kebiasaan sepasang suami isteri orang china yang suka melipat kertas atau bungkusan apa saja yang mereka dapatkan dari klien. Termasuk masalah tali temali yang menurut kita itu layak dibuang, ternyata mereka sambung-sambung dan kemudian dapat dipergunakan kembali" terangnya

Dari sekelumit pengalaman itu ia belajar untuk berhemat . "Bukan kikir katanya, kalau diajak untuk menyumbang untuk mesjid atau organisasi sosial, boleh kita coba" Tantangnya.

Comments (0)Add Comment
Write comment
 
  smaller | bigger
 

busy
 
< Sebelumnya   Sesudahnya >