|
|
, di Upload oleh reynold
|
|
Wednesday, 30 January 2008 |
|
Siapa bilang tinggal dilingkungan asrama bakalan terkungkung dari aktivitas ekskul alias tidak punya gawean sama sekali. Buktinya, selama tiga hari lalu, 25-27 Januari 2008 santri Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang, menggelar iven besar diawal tahun hijrah ini. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengangkat acara lomba matematika tingkat SLTP/MTs Se Kabupaten Tanah Datar, Agan, Padang Panjang dan Bukittinggi dengan memperebutkan tropi bergilir dari Walikota Padang Panjang. Saking meriahnya, iven ini diikuti oleh 270 peserta utusan sekolah dari empat kabupaten kota di Sumatera Barat. Acara yang dibuka oleh walikota Padang Panjang, juga dihadiri oleh Kepala Departemen Agama, Kepala Dinas Pendidikan setempat. Dalam sambutannya, Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri menegaskan bahwasanya apapun yang kita pilih selalu berhubungan dengan matematika dan angka-angka. Untuuk itu dengan adanya lomba matematika, minat dan kecintaan perlu ditumbuhkan. Setelah bergulat dengan soal –soal selama tiga hari, sebagaimana dipaparkan ketua panitia Anggia Stephani, siswi kelas XI IPA, peserta yang dinyatakan juri masuk semifinal adalah sebanyak 30 peserta. Dari sejumlah itu terseleksi lagi 10 peserta yang lolos menjawab semua soal yang diajukan tim penguji. Pada sesi ini tingkatan kerumitan soal mulai menyerbu peserta. Khusus hari ketiga, model perlombaan berbeda lagi, diantaranya meliputi cerdas cermat matematika, penyelesaian soal dari dewan juri dan sola yang ditampilkan di slide power poin untuk dijawab oleh peserta. |
|
|
Sunday, 06 January 2008 |
Author : Ahmad Rifa’i, SP Memasuki abad berteknologi tinggi, yang ditandai dengan sarat perubahan perdetik, sepertinya telah menengelamkan banyak lembaga yang tidak sudi melakukan penyesuaian diri. Tak terkecuali lembaga pendidikan pesantren masa lalu yang kini masih eksis, kendati nafasnya hampir habis, tetap berupaya bertahan dengan segala kekuatan yang ada. Apa daya, kini satu persatu, lembaga pesantren yang dikenal diawal abad 19 di Padang Panjang mulai berguguran laksana daun kering dimusim kemarau. Memang benar, Pesantren hari di Sumatera Barat secara umum-meminjam istilah Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan- Almarhum secara perlahan tapi pasti. Dan ini merupakan pukulan telak terhadap keberlangsungan program cetak biru para calon ustaz dan tokoh dari pesantren akan berakhir masanya. Membedah persoalan apa yang terjadi di Pesantren tersebut, kita harus lebih terbuka terhadap kelemahan dan kegagalan yang dialami. Sebagai shearing idea, kita akan bertanya; prestasi apakah yang telah menonjol ditorehkan Pesantren di kota Serambi Mekah sejak tiga tahun terakhir ? Pertanyaan lain juga diajukan, :apakah pesantren telah dijadikan sebagai tempat pendidikan utama bagi semua orang tua di Sumatera Barat untuk menyekolahkan anaknya ke Pesantren, atau justeru sebaliknya menjadi pelarian bagi anak-anak mereka yang bermasalah? |
|
|
, di Upload oleh reynold
|
|
Sunday, 06 January 2008 |
|
Oleh. Ahmad Rifa’i,SP Tulisan Saudara Musriadi Musanif tiga hari lalu, yang dimuat dimedia ini dengan judul: Upaya Keras Aparatur Pemko Padang Panjang, telah menggugah banyak orang. Tak terkecuali, Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Sendiri, Fauziah Fauzan, merespon dengan positif apa yang dikandung materi tulisan itu. Selesai membaca tulisan tadi, Fauziah Fauzan langsung menggelar rapat terbatas dengan seluruh staleholder Diniyyah Puteri untuk mengevaluasi Prestasi Pondok Pesantren Se Padang Panjang, sebagaimana dalam tulisannya menyinggung Diniyyah Puteri dan Thawalib khususnya yang telah telah mengalami kemunduran beruntun sejak beberapa tahun terakhir. Materi tulisan itu, cukup objektif dan sangat pantas kiranya seorang Fauziah Fauzan dan tentunya kita, warga padang Panjang secara umum, mengucapkan terima kasih atas otokritik intelektual yang disajikan Musriadi Musanif. Memang benar, kita harus lebih terbuka terhadap kelemahan dan kegagalan pesantren dewasa ini. Sebagai shearing idea, kita akan bertanya; prestasi apakah yang telah menonjol ditorehkan Pesantren di kota Serambi Mekah sejak tiga tahun terakhir ? Pertanyaan lain juga diajukan, :apakah pesantren telah dijadikan sebagai tempat pendidikan utama bagi semua orang tua di Sumatera Barat untuk menyekolahkan anaknya ke Pesantren, atau justeru sebaliknya menjadi pelarian bagi anak-anak mereka yang bermasalah? |
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 3 Sesudahnya > Akhir >>
| | Hasil 17 - 23 dari 23 | |
|
|
|
|
Kalender Kegiatan
 |
July 2010 |
 |
|
|
|
Jumlah Anggota
 | 227 registered |
 | 0 hari ini |  | 1 minggu ini |  | 8 bulan ini |  | Terakhir: limpcookie |
Pengunjung Online
Saat ini terdapat 3 pengunjung online
Kunjungan ke :
| Today | 62 | | Yesterday | 71 | | Week | 230 | | Month | 1444 | | All | 23893 |
|
Anggota Baru
| limpcookie 24.07.2010 17:59:07 |
| |
| maimecha 09.07.2010 12:40:01 |
|
| GoliAffomma 03.07.2010 23:44:07 |
| |
|
|