|
Pudarnya Standar Etika Seorang Guru Oleh. Ahmad Rifa’i Tugas seorang guru ternyata bukanlah sekedar sebagai media transper wawasan pengetahuan (knowledge) semata kepada siswanya. Ada tugas penting diatas itu, bahkan lebih penting dari sekedar berdiri di depan kelas mengisi kepala siswanya, dan tugas inilah yang sebenarnya kerap diabaikan secara tidak sadar. Tentunya tugas yang kita maksud tidak lebih bagaimana seorang guru mampu menjaga etika, sikap dan perilakunya selama melakukan proses belajar mengajar dan diluar itu. Inilah beban moralnya ketika soal moralitas dirinya harus diperlihara dihadapan siapa saja. Sesungguhnya ada empat aspek yang harus bisa dicontoh siswa dari gurunya, pertama, aspek perilaku dan etika, dalam hal ini tatakrama dan sopan santun. Cara berbicara, menyuruh siswa, cara menghargai serta cara mendidik. Kedua, aspek wawasan pengetahuan yang justeru sekarang dianggap sebagai tugas utama seorang guru dengan mengenyampingkan tugas-tugas lainnya. Ketiga aspek motivasi diri yang muncul dari diri seorang guru, yang pada gilirannya bakal memacu motivasi anak-anaknya untuk selalu semangat dalam belajar dan semangat dalam menjalani kehidupan; guru tak lebih seorang motivator dan trainer pengembangan diri terapan. Dan keempat, adalah aspek, nilai-nilai kejujuran dan kebenaran yang harus disandangnya sebelum siswa menerapkan sendiri dalam kehidupan mereka. Etika dan perilaku guru, menjadi sorotan sebab, kegagalan anak didik dalam mengemban perilaku terpuji dan beretika di bangku sekolah gagal total lantaran orang yang pertama mengajari mereka bukanlah seorang guru yang baik dan sopan pula. Kemudian diikuti oleh aspek motivasi dan nilai-nilai kejujuran yang tidak dimiliki oleh guru yang juga membuat siswanya seolah sedang tidak memiliki masa depan yang cerah. Sebaliknya,yang dimiliki siswa, dari gurunya adalah aspek pengetahuan belaka dengan masa depan yang hampa dan gelap. Bila kita berkunjung ke sekolah-sekolah dan duduk di ruangan majelis guru , nyaris kita tidak akan menemukan standar etika dan perilaku guru-guru itu sebagaimana yang kita harapkan. Yang didapati sebagian sibuk mengerumpi, tertawa terbaha-bahak.Marah-marah terhadap rekan kerja. Tidak mau tahu dan tidak mau ambil peduli. Berkata kasar dan kurang sopan. Parahnya tabiat ini pun dipindahkan ke dalam kelas manakala ia mengajari siswanya. Ia menjadi diktator yang tidak terikat oleh perilaku dan nilai-nilai kebaikan. Dibelakang atau diluar kelas, anak –didiknya sudah pasti akan berbuat serupa pula. Seorang guru, mesti punya standar etika baik ketika berada di dalam kelas atau dilingkungan sekolah. Sebab, guru, yang harus ditiru itu bukanlah sekedar mendapatkan pengetahan darinya, juga satu saat siswanya akan meniru tabiat dan perilakunya sebagai sebuah contoh yang sama. Ini pula yang menjadi sisi kelemahan guru-guru sekarang yang menafikan standar etika guru. Menganggap itu tidaklah penting. Ia berkata sesukanya, bertingkah semaunya, seolah itu bukanlah sesuatu bentuk media pengajaran kepada siswanya. Pepatah lama yang mengatakan, guru kencing berdiri murid kencing berlari merupakan bentuk pelajaran perilaku yang telah terbukti kebenarannya sampai sekarang. Tidaklah heran bila kita melihat, guru-guru yang kurang lapang hatinya, tidak ikhlas mengajar, tidak penyayang dan tidak pula penyabar akan membentuk generasi yang lebih jelek perilaku nya daripada perilaku guru masa itu. Bila guru hari ini begitu mudah mengeluh sudah tentu keluhan anak didiknya lebih keras daripada itu. Memang yang dikeluhan para guru itu adalah soal materi (gaji) yang selalu diumpat-umpatkan, kepada kepala sekolah dan kepada pemerintah (termasuk kepada kepala daerah), anak didiknya tentu membuat keluhan yang macam-macam, karena gurunya saja juga mengeluh. Dari sini, sebuah sekolah tidak akan bisa melahirkan siswa-siswa pemimpi yang punya cita-cita tinggi, sebaliknya memproduksi siswa yang terbelakang motivasi diri dan mental mereka, lantaran sekolah itu dihuni oleh guru-guru pengeluh. Potret guru kita bukanlah tipikal motivator pula yang menegakkan kemauan siswanya. Guru kita tidak pernah mendorong siswanya untuk berbuat lebih baik dalam perilaku, kesantunan dan kesopanan. Perilaku guru kita memang sudah terbelah kepada perilaku guru yang mengedepankan sisi egoisme diri. Kasarnya selalu berbicara gaji dan sarana prasarana. Seharusnya para guru sekarang, harus belajar kepada semangat Ibu muslimah, seorang guru yang mengabdi di Pelosok Desa, di Belitung, yang mengorbitkan mimpi muridnya di SD Muhammadiyah Belitung yang dikemudian hari menjadi orang besar,sebagaimana model pendidikan dan penagajarannya dapat kita saksikan di novel Laskar pelangi, karya Andera Hirata. Sebenarnya seorang guru sejati itu, harus memiliki empat aspek diatas secara sempurna. Untuk mendapatkan empat hal diatas, harus berpijak dari keinginan dirinya sendiri mengabdi menjadi seorang pendidik adalah berangkat dari hati sanubari terdalam yang kemudian melahirkan niat keikhlasan untuk mengajar. Dari sinilah, akan mengalirkan motivasi dan mimpi-mimpi yang akan disambungkannya kepada anak muridnya. Seorang guru sejati yang memiliki motivasi tinggi pasti tidak pernah mengeluh. Dengan segala kondisi dan suasana ia akan belajar mencintai dan memiliki rasa sayang yang tinggi pula kepada anak didiknya. Mengajari mereka tentang keutamaan kesantunan sebelum mengisi pengetahuan. Senantiasa menjaga diri dari perilaku-perilaku buruk karena kalau itu dilakukan, boleh jadi akan menjadi pembenaran bagi siswanya untuk kemudian ditiru pula. Guru sejati, selalu mewarnai hidupnya dengan kata-kata spirit motivasi dimana pun berada. Menunjukkan tindakan terpuji, membantu siapa saja, tida pelit dan tidak kikir. Dan menakjubkan selama dua puluh empat jam adalah hari-hari dimana ia berperan bak air keran yang selalu menawarkan budi kepada siapa saja dengan tidak kenal lelah. Sayang guru sejati itu kini telah hilang, seiring biasnya standar etika dan perilaku guru yang ditelan nafsu materialistik. Dan pekerjaan guru tidak lebih sebagai buruh pendidikan yang tidak harus terikat dengan sederatan aturan dan norma kebaikan. Guru pun, sekali lagi tak obah seperti buruh. Kering dari keihklasan pengabdian, bekerja diukur dari pendapatan, status profesi terikat dengan jam mengajar dan defenisi guru pun berubah, bukan sebagai tenaga pendidik, melainkan tenaga pengajar, yang bertumpu diatas pengetahuan. Ketahuilah mendidik tidak sama mengajar, tetapi dalam mendidik ada pengajaran dan tidaklah selama mengajar itu ada unsur mendidik. Mendidik adalah , memandu dari perilaku diri untuk bersama-sama ditiru, tentu ada muatan etika dan perilaku, sedangkan mengajar hanya mentransferkan pengetahuan semata tanpa ada kaitannya dengan perilaku dirinya apalagi diri siswanya. 1 Januari 2010, Sekolah Inspirasi, yang bernama Diniyyah Puteri Padang Panjang. Kepala Divisi Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang Jangan Menyerah, Guruku ! Oleh. Ahmad Rifa’i Sejarah, pemerintah atau kita sekalipun kadang tidak adil dalam memandang keberadaan atau posisi para guru dalam catatan sejarah. Kebesaran jasa guru seolah cukup dijuluki dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, peranannya bahkan lebih atau sama besar dengan para pejuang kemerdekaan. Tapi dinegeri ini ia selalu dilupakan. Manakala negara Matahari terbit “Jepang” hancur dihujani dua bom atom sekaligus, dan negerinya hampir lumat, sang kaisar hanya menanyakan satu hal setelah itu, berapa orangkah guru kita yang tersisa. Sebuah pertanyaan yang menguncangkan nurani kita, bahwa peran guru betapa mahal dan dihargai di negeri itu. Bahkan lebih tinggi dari posisi jenderal perang hingga para serdadu . Semestinya ia bertanya, berapa ribu pasukankah yang tersisa ? Tetapi tidak ! Kita juga memandang profesi guru itu sebagai profesi remeh dan rendahan, padahal, statusnya, lebih tinggi dari pada dosen yang bergelar doktor dan professor sekalipun. Sebab gurulah orang pertama yang mendidik anak-anak itu hingga bisa membaca, menulis dan mengenal angka-angka. Sedangkan profesor hanya tinggal beres. Guru memulai dari nol mengubah orang yang tidak mengenal apa-apa, untuk tahu dengan istilah, nama dan benda, sementara para doktor menerima bersih saja. Dan jangan lupa, seorang dosen bisa bergelar professor juga karena peran para guru-guru itu. Termasuk orang tua kita,pintar karena guru pula. Itu sebabnya, Pakar Manajemen pemasaran Universitas Universitas Indonesia, Rhenald Khasali, PHd, tahu betul bagaimana menghargai besarnya jasa gurunya waktu SD dahulu. Ketua program Magister Ilmu Manajemen Univ. Indonesia itu mengundang sang guru yang pernah membuat dirinya tidak naik kelas pada acara penganugerahan gelar Profesor kepada dirinya. Dia tinggal kelas, bukan karena dia bebal alias bodoh, tapi karena nakal dan suka berkelahi. Itulah Mardiyanti, sang guru SD, sang yang membuat Rhenald tahu makna hidup setelah itu. “kalau bukan karena tinggal kelas karena sang guru, dia tidak akan juara kelas untuk masa-masa mendatang’kenangnya. Seorang guru, yang terasing dari dunia luar, berhasil menyulap 10 anak-anak kesayangannya menjadi orang-orang yang melukiskan sejarah. Dan SD Muhammadiyah Belitong yang dianggap paling miskin yang pernah diancam ditutup oleh Diknas Sumsel, selamat karena anak-anak tadi. Yang menyelamatkan sekolah itu adalah seorang siswa idiot yang bernama Harun yang seharusnya masuk Sekolah Luar Biasa, di Kota Bangka. Tapi karena rasa cintanya untuk belajar, sekolah itu membalas jasa Harun dengan mengubahnya menjadi anak-anak yang luar biasa dan ini membuat kita iri. Sekolah Muhammadiyah yang layak dikatakan sebagai gubuk dikemudian hari menjadi terkenal karena anak-anak yang dahulunya tidak masuk dalam catatan sejarah, membuat gempar nusantara. Lintang dengan teman-temannya dalam Novel Laskar Pelangi, garapan Andrea Hirata telah menginspirasi dunia pendidikan kita, bahwa dibalik kesuksesan mereka itu, tidak lepas dari spirit/semangat dan kesabaran seorang Ibu guru yang bernama ibu guru Muslimah. Semangat itulah yang ditularkan kepada Tim Laskar pelangi. Karenanya mereka percaya bahwa masa depan itu (tentu) milik mereka. Jauh sebelum Laskar Pelangi hadir, seorang perempuan, yang sejarahnya dicoba dilupakan banyak orang, merajut mimpi-mimpi besarnya lewat sekolah khusus puteri. Apa yang didirikan, tidak disokong orang kebanyakan, tapi Al Azhar university di Mesir sana, terpesona dengan karyanya. Kendati Ia, dilupakan oleh perempuan muslimah Minangkabau dan wanita negeri ini termasuk pegiat gender sekalipun, tapi, para Muslimah di Malaysia, pantas kiranya berterima kasih kepadanya. Betapa tidak, pembinaan yang dilakukannya menjadi kenangan indah, bagi Aisyah Gani, alumni Diniyyah Puteri yang menjadi menteri Am kebajikan selama empat periode dimasa Perdana Menteri Dato Mahatir Muhammad. Kemudian Datin sakinah Juned, Siti Zubaidah dan lainnya. Dan bukan bualan sejarah kalau generasi muslimah Malaysia (senator dan menteri) cerdas, karena berkat tangan seorang perempuan yang bernama Rahmah el Yunusiyyah. Rahmah berjuang menegakkan harkat perempuan berangkat dari sekolah yang didirikannya. Ia tidaklah kaya, tidak punya modal. Sarana prasana Diniyyah Puteri diawal berdiri mungkin samalah dengan apa yang didapati Ibu Muslimah, yang banyak serba kekurangan. Modalnya yang pertama adalah cinta, kemauan, semangat dan niat yang ikhlas untuk mencerdaskan generasi muslimah yang kala itu tidak diberi kesempatan untuk memimba ilmu oleh zamannya. Tapi, kekurangan itu tidak ada artinya bagi diri mereka. Sebaliknya menjadi pelecut motivasi diri untuk tidak mudah menyerah karena keadaan. Karenanya secara materi boleh miskin, tetapi secara immateri, kekayaan motivasinya tidak terhitung. Semangat inilah, dari seorang guru yang ikhlas, apa yang dimimpi-mimpikannya, Allah realisasikan dikemudian hari dalam bentuk yang lain. Kenyataannya murid-murid , ibu Muslimah dan sudah tentu Rahmah El Yunusiyyah telah berhasil mempersembahkan karya mereka untuk para guru (dan bangsanya) dengan prestasi dan kesuksesan yang telah dicapai. Semua itu tidak lebih, berkat seorang guru yang dianggap sebagai pelengkap cerita dari sebuah sejarah bangsa ini. Seorang guru tidak boleh menyerah karena keadaan. Kekurangan gaji dan sarana prasarana. Sebab yang dibangun adalah kemauan pantang menyerah untuk diajarkan kepada anak didiknya. Ia sedang melakukan pekerja yang tidak kecilm melainkan pekerjaan besar sebab Ia akan merubah sebuah generasi yang melahirkan banyak karya dikemudian hari. Bila penyakit mudah mengeluh dan berputus asa masih diidap para guru sekarang, maka untuk selanjutnya kita juga akan membentuk generasi pengeluh yang mudah menyerah disuatu hari nanti. Untuk menghindari itu, sudah saatnya sekolah dan para guru bangkit dengan menjadikan sekolah-seklah mereka sebagai benteng untuk merancang perubahan anak didiknya menjadi orang-orang yang memiliki mimpi besar dikemudian hari. Kita yakin, perubahan sebuah bangsa berangkat dari sebuah sekolah, dan perubahan sebuah sekolah berasal dari perubahan para gurunya. Jika seorang Renald Khasali berhasil mendirikan sebuah kampung yang bernama kampung perubahan, dimana ia mengajari orang-orang didalamnya belajar berbisnis atau hidup secara mandiri dan itu berhasil dilakukannya, maka institusi sekolah (masa lalu) telah jauh hari sudah membuktikan bahwa sekolah sukses melahirkan generasi orang-orang sukses. Saatnya, sekolah zaman sekarang harus membangun inspirasi perubahan, yang dimulai dari guru-guru itu untuk melakukan perubahan fundamental pada dirin mereka sebelum merubah anak didiknya. Guru harus merubah cara berpikirnya sebelum merubah cara berpikir anak didiknya. Karenanya, jangan menyerah wahai para guruku. Baik buruknya sebuah generasi, berada ditanganmu, sebab engkaulah yang memberi warna pertama dalam hidup siswanya sebelum mereka-mereka menjadi mahasiswa. Kepala Divisi Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 1 Januari 2010, Sekolah Inspirasi, yang bernama Diniyyah Puteri Padang Panjang.
|