Belum terdaftar ?


 
Pudarnya standar etika guru PDF Cetak E-mail
, di Upload oleh emidumiati   
Saturday, 02 January 2010

Pudarnya  Standar Etika  Seorang  Guru

Oleh. Ahmad Rifa’i

 

            Tugas seorang guru ternyata bukanlah sekedar  sebagai media transper wawasan pengetahuan (knowledge) semata kepada siswanya. Ada tugas penting diatas  itu, bahkan lebih penting dari sekedar berdiri di depan kelas mengisi  kepala siswanya, dan tugas inilah yang sebenarnya  kerap diabaikan secara tidak sadar.  

Tentunya tugas yang kita maksud tidak lebih bagaimana seorang guru mampu  menjaga etika, sikap dan perilakunya selama melakukan proses belajar mengajar dan diluar itu. Inilah beban moralnya ketika soal moralitas dirinya harus diperlihara dihadapan siapa saja.

Sesungguhnya ada empat  aspek yang harus bisa dicontoh siswa dari  gurunya, pertama, aspek perilaku dan etika, dalam hal ini tatakrama dan sopan santun. Cara berbicara, menyuruh siswa, cara menghargai serta cara mendidik.  Kedua, aspek  wawasan pengetahuan yang justeru sekarang dianggap sebagai tugas utama seorang guru dengan mengenyampingkan tugas-tugas  lainnya. Ketiga aspek  motivasi diri yang muncul dari diri seorang guru, yang pada gilirannya  bakal  memacu motivasi anak-anaknya untuk selalu semangat dalam belajar dan semangat dalam menjalani kehidupan; guru tak lebih seorang motivator dan trainer pengembangan diri terapan.   Dan keempat, adalah aspek, nilai-nilai kejujuran dan kebenaran yang harus disandangnya sebelum  siswa menerapkan sendiri dalam kehidupan mereka.

            Etika dan perilaku guru, menjadi sorotan sebab, kegagalan anak didik dalam mengemban perilaku terpuji dan beretika di bangku sekolah gagal total lantaran orang yang pertama mengajari mereka bukanlah seorang guru yang baik dan sopan pula.  Kemudian diikuti oleh aspek motivasi dan nilai-nilai kejujuran yang tidak dimiliki oleh guru yang juga membuat siswanya seolah sedang tidak memiliki masa depan yang cerah. Sebaliknya,yang dimiliki siswa, dari gurunya adalah  aspek pengetahuan  belaka dengan masa depan yang hampa dan gelap.

            Bila kita berkunjung ke sekolah-sekolah dan duduk di ruangan majelis guru , nyaris kita tidak akan menemukan  standar etika dan perilaku guru-guru itu sebagaimana yang kita harapkan.  Yang didapati sebagian sibuk mengerumpi, tertawa terbaha-bahak.Marah-marah terhadap  rekan kerja. Tidak mau tahu dan tidak mau ambil peduli. Berkata kasar dan kurang sopan. Parahnya tabiat ini pun dipindahkan ke dalam kelas manakala ia mengajari siswanya.   Ia menjadi diktator yang tidak terikat oleh perilaku dan nilai-nilai kebaikan. Dibelakang atau diluar kelas, anak –didiknya sudah pasti akan berbuat serupa pula.

            Seorang guru, mesti punya standar etika baik  ketika berada di dalam kelas atau dilingkungan sekolah. Sebab, guru, yang harus ditiru itu bukanlah sekedar mendapatkan pengetahan darinya, juga  satu saat siswanya akan meniru tabiat dan perilakunya sebagai sebuah contoh yang sama.

Ini pula yang menjadi sisi  kelemahan guru-guru sekarang yang menafikan standar etika guru. Menganggap itu tidaklah penting. Ia berkata sesukanya, bertingkah semaunya, seolah itu bukanlah sesuatu bentuk media pengajaran kepada siswanya. Pepatah lama  yang mengatakan, guru kencing berdiri murid kencing berlari merupakan bentuk pelajaran perilaku yang telah terbukti kebenarannya sampai sekarang.

Tidaklah heran bila  kita melihat, guru-guru yang kurang lapang hatinya, tidak ikhlas mengajar, tidak penyayang dan tidak pula penyabar akan membentuk generasi yang lebih jelek perilaku nya daripada perilaku   guru masa itu.  Bila guru hari ini begitu mudah mengeluh sudah tentu  keluhan anak didiknya lebih keras daripada itu. Memang yang dikeluhan para guru  itu adalah soal materi (gaji)   yang selalu diumpat-umpatkan, kepada kepala sekolah dan kepada pemerintah (termasuk kepada kepala daerah), anak didiknya tentu membuat keluhan yang macam-macam, karena gurunya saja  juga mengeluh.  Dari sini, sebuah sekolah tidak   akan bisa melahirkan siswa-siswa pemimpi yang punya cita-cita tinggi, sebaliknya memproduksi siswa yang  terbelakang motivasi diri dan mental mereka, lantaran sekolah itu dihuni  oleh guru-guru pengeluh.  

 Potret guru kita bukanlah tipikal motivator  pula  yang menegakkan kemauan siswanya.  Guru kita tidak pernah mendorong siswanya untuk berbuat lebih baik dalam perilaku, kesantunan dan kesopanan.  Perilaku guru kita memang sudah terbelah kepada perilaku guru yang mengedepankan sisi egoisme diri. Kasarnya selalu berbicara gaji dan sarana prasarana.

Seharusnya para guru sekarang, harus belajar kepada semangat  Ibu muslimah, seorang guru yang mengabdi di Pelosok Desa, di Belitung,  yang mengorbitkan mimpi muridnya di SD Muhammadiyah Belitung yang dikemudian hari menjadi orang besar,sebagaimana model pendidikan dan penagajarannya dapat kita saksikan di novel Laskar pelangi, karya Andera Hirata.

Sebenarnya  seorang guru sejati itu, harus memiliki  empat aspek diatas secara sempurna. Untuk mendapatkan empat hal diatas, harus berpijak dari  keinginan dirinya sendiri   mengabdi menjadi seorang pendidik adalah berangkat dari  hati sanubari terdalam yang kemudian melahirkan niat keikhlasan untuk mengajar.   Dari sinilah, akan mengalirkan motivasi dan mimpi-mimpi yang akan disambungkannya kepada anak muridnya.

Seorang guru sejati yang memiliki motivasi tinggi pasti tidak pernah mengeluh. Dengan segala kondisi dan suasana ia akan belajar mencintai dan  memiliki rasa sayang yang tinggi pula kepada anak didiknya. Mengajari mereka tentang keutamaan kesantunan sebelum mengisi  pengetahuan. Senantiasa menjaga diri dari perilaku-perilaku buruk karena kalau itu dilakukan, boleh jadi akan menjadi pembenaran bagi siswanya untuk kemudian ditiru pula.  Guru sejati, selalu mewarnai hidupnya dengan kata-kata spirit motivasi dimana pun berada. Menunjukkan tindakan terpuji, membantu siapa saja, tida pelit dan tidak kikir. Dan menakjubkan selama dua puluh empat jam adalah hari-hari dimana ia berperan bak air keran yang selalu menawarkan budi kepada siapa saja dengan tidak kenal lelah.

Sayang guru sejati itu kini telah hilang, seiring biasnya standar etika dan perilaku guru yang ditelan nafsu materialistik. Dan pekerjaan guru tidak lebih sebagai buruh pendidikan yang tidak harus terikat dengan sederatan aturan dan norma kebaikan. Guru pun, sekali lagi tak obah seperti buruh. Kering dari keihklasan pengabdian, bekerja diukur dari pendapatan, status profesi terikat dengan jam mengajar dan defenisi guru pun berubah, bukan sebagai tenaga pendidik, melainkan tenaga pengajar, yang bertumpu diatas pengetahuan. Ketahuilah mendidik tidak sama mengajar, tetapi dalam mendidik ada pengajaran dan tidaklah selama mengajar itu ada unsur mendidik.  Mendidik adalah , memandu dari perilaku diri untuk bersama-sama ditiru, tentu ada muatan etika dan perilaku, sedangkan mengajar hanya mentransferkan pengetahuan semata tanpa ada kaitannya dengan perilaku dirinya apalagi diri siswanya. 

1 Januari 2010, Sekolah  Inspirasi,   yang bernama Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Kepala Divisi Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Menyerah, Guruku  !

Oleh. Ahmad Rifa’i

 

Sejarah, pemerintah atau kita sekalipun kadang tidak adil dalam memandang  keberadaan atau posisi para  guru dalam catatan sejarah. Kebesaran jasa guru seolah cukup dijuluki dengan pahlawan tanpa tanda jasa.  Padahal, peranannya bahkan lebih atau sama besar dengan para pejuang kemerdekaan.  Tapi dinegeri ini ia selalu dilupakan. 

            Manakala negara Matahari terbit “Jepang”  hancur dihujani dua  bom atom sekaligus, dan negerinya hampir lumat, sang kaisar hanya menanyakan satu hal setelah itu, berapa orangkah guru kita yang tersisa. Sebuah pertanyaan yang menguncangkan nurani kita, bahwa  peran  guru betapa mahal dan dihargai   di negeri itu. Bahkan lebih tinggi dari posisi  jenderal perang  hingga para serdadu . Semestinya ia bertanya, berapa ribu pasukankah yang tersisa ?  Tetapi tidak !

            Kita juga memandang profesi guru itu sebagai profesi  remeh dan rendahan, padahal, statusnya, lebih tinggi dari pada dosen yang bergelar doktor dan professor sekalipun.  Sebab gurulah orang pertama yang mendidik anak-anak itu hingga  bisa membaca, menulis dan mengenal angka-angka.  Sedangkan profesor hanya tinggal beres.   Guru memulai dari nol mengubah orang yang tidak mengenal apa-apa, untuk tahu dengan istilah, nama dan benda,  sementara para doktor menerima bersih saja. Dan jangan lupa, seorang dosen bisa bergelar professor juga karena peran  para guru-guru itu. Termasuk orang tua kita,pintar karena guru pula.

            Itu sebabnya, Pakar Manajemen pemasaran Universitas Universitas Indonesia, Rhenald Khasali, PHd, tahu betul bagaimana  menghargai  besarnya jasa gurunya waktu SD dahulu.     Ketua program Magister Ilmu Manajemen  Univ. Indonesia itu  mengundang sang guru yang pernah membuat dirinya tidak  naik kelas pada acara penganugerahan gelar Profesor kepada dirinya.    Dia  tinggal kelas, bukan karena dia bebal alias bodoh, tapi karena nakal dan suka berkelahi.  Itulah Mardiyanti, sang guru SD, sang  yang membuat Rhenald tahu makna hidup setelah itu. “kalau bukan karena tinggal kelas karena sang guru, dia tidak akan juara kelas untuk masa-masa mendatang’kenangnya.

            Seorang  guru, yang  terasing dari dunia luar,   berhasil menyulap 10 anak-anak kesayangannya  menjadi orang-orang yang melukiskan sejarah.  Dan    SD Muhammadiyah Belitong yang dianggap paling miskin yang pernah diancam ditutup oleh Diknas Sumsel,  selamat karena  anak-anak tadi. Yang menyelamatkan sekolah itu adalah seorang siswa idiot yang bernama Harun yang seharusnya masuk Sekolah Luar Biasa, di Kota Bangka. Tapi karena rasa cintanya  untuk belajar, sekolah itu  membalas jasa Harun dengan mengubahnya menjadi anak-anak yang luar biasa dan ini  membuat kita iri. 

Sekolah Muhammadiyah yang layak dikatakan sebagai gubuk  dikemudian hari  menjadi terkenal  karena anak-anak yang dahulunya  tidak masuk dalam catatan sejarah, membuat gempar nusantara. Lintang dengan teman-temannya dalam Novel  Laskar Pelangi, garapan Andrea Hirata  telah menginspirasi dunia pendidikan kita, bahwa dibalik kesuksesan mereka itu, tidak lepas dari  spirit/semangat dan kesabaran seorang  Ibu guru yang bernama  ibu guru Muslimah. Semangat itulah  yang ditularkan kepada Tim Laskar pelangi. Karenanya mereka percaya bahwa masa depan itu (tentu)  milik mereka.

            Jauh sebelum Laskar Pelangi hadir, seorang perempuan, yang sejarahnya dicoba dilupakan banyak orang, merajut mimpi-mimpi besarnya lewat sekolah khusus puteri.  Apa yang didirikan, tidak disokong orang kebanyakan, tapi Al Azhar university  di Mesir sana, terpesona dengan karyanya. Kendati  Ia, dilupakan oleh perempuan muslimah  Minangkabau dan wanita negeri ini termasuk pegiat gender sekalipun, tapi, para  Muslimah di Malaysia, pantas kiranya berterima kasih kepadanya. Betapa tidak, pembinaan yang dilakukannya menjadi kenangan indah, bagi Aisyah Gani, alumni Diniyyah Puteri yang menjadi menteri Am kebajikan selama empat periode dimasa Perdana Menteri Dato Mahatir Muhammad. Kemudian  Datin sakinah Juned, Siti Zubaidah dan lainnya.  Dan bukan bualan sejarah kalau generasi muslimah Malaysia (senator dan menteri) cerdas, karena berkat  tangan seorang perempuan yang bernama Rahmah el Yunusiyyah.

            Rahmah berjuang menegakkan harkat perempuan berangkat dari sekolah yang didirikannya. Ia tidaklah kaya, tidak punya modal.  Sarana prasana Diniyyah Puteri diawal berdiri mungkin samalah dengan apa yang didapati Ibu Muslimah, yang banyak serba kekurangan. Modalnya yang pertama adalah cinta,  kemauan, semangat dan niat yang ikhlas untuk mencerdaskan generasi muslimah yang kala itu tidak diberi kesempatan untuk memimba ilmu oleh zamannya.  Tapi, kekurangan itu tidak ada artinya bagi diri mereka.  Sebaliknya menjadi pelecut motivasi diri untuk tidak mudah menyerah karena keadaan. 

Karenanya secara materi boleh miskin, tetapi secara immateri, kekayaan motivasinya  tidak  terhitung. Semangat inilah, dari seorang guru yang ikhlas, apa yang dimimpi-mimpikannya, Allah realisasikan dikemudian hari dalam bentuk yang lain. Kenyataannya murid-murid , ibu Muslimah dan sudah tentu Rahmah El Yunusiyyah telah berhasil mempersembahkan karya mereka untuk para guru (dan bangsanya) dengan prestasi dan kesuksesan yang telah dicapai. Semua itu tidak lebih, berkat seorang guru yang dianggap sebagai pelengkap cerita dari sebuah sejarah bangsa ini.

             Seorang guru tidak boleh menyerah karena keadaan. Kekurangan gaji dan sarana prasarana. Sebab yang dibangun adalah kemauan pantang menyerah untuk diajarkan kepada anak didiknya.  Ia sedang melakukan pekerja yang tidak kecilm melainkan pekerjaan besar sebab Ia akan merubah sebuah generasi yang  melahirkan banyak karya dikemudian hari. Bila penyakit mudah mengeluh dan berputus asa  masih diidap para guru sekarang, maka untuk selanjutnya  kita juga akan membentuk generasi pengeluh yang mudah menyerah disuatu hari nanti. Untuk menghindari itu, sudah saatnya   sekolah dan para guru bangkit dengan menjadikan sekolah-seklah mereka sebagai  benteng untuk merancang perubahan anak didiknya menjadi orang-orang yang memiliki mimpi besar dikemudian hari. 

Kita yakin, perubahan sebuah bangsa berangkat dari sebuah sekolah, dan perubahan sebuah sekolah berasal dari perubahan para gurunya. Jika seorang  Renald Khasali berhasil mendirikan sebuah kampung yang bernama kampung perubahan, dimana ia mengajari orang-orang didalamnya belajar berbisnis atau  hidup secara  mandiri  dan itu berhasil dilakukannya, maka institusi sekolah (masa lalu)  telah jauh hari sudah membuktikan bahwa sekolah   sukses melahirkan generasi orang-orang sukses.

Saatnya, sekolah zaman  sekarang  harus membangun inspirasi   perubahan, yang dimulai dari guru-guru itu  untuk  melakukan perubahan  fundamental pada dirin mereka sebelum merubah anak didiknya. Guru harus merubah cara berpikirnya sebelum merubah cara berpikir anak didiknya.  Karenanya, jangan menyerah wahai para guruku. Baik buruknya sebuah generasi, berada ditanganmu, sebab engkaulah yang memberi  warna pertama dalam hidup siswanya sebelum mereka-mereka menjadi mahasiswa.  Kepala Divisi Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

1 Januari 2010, Sekolah Inspirasi,   yang bernama Diniyyah Puteri Padang Panjang.

 

 
< Sebelumnya   Sesudahnya >

Jumlah Anggota

247 registered
1 hari ini
1 minggu ini
8 bulan ini
Terakhir: tredognireeve

Pengunjung Online

Saat ini terdapat 4 pengunjung online

Kunjungan ke :

Today27
Yesterday30
Week230
Month152
All25282