|
Cerpen “Kota yang Hampir Mati” Oleh. Ahmad Rifa’I Aku berada di kota yang hampir mati peradabannya. Ya peradaban intelektual dengan nafas agama yang melingkupi kota itu dahulunya. Dalam ingatanku pun kota ini juga telah menebarkan semerbak wewangian para syuhada. Memancarkan cahaya agama lewat pena ulamanya. Menjadi tujuan ribuan anak muda yang bemaksud menimba ilmu ke sana. Sebab mereka belajar untuk menabur budi dan menimba agama pada gurunya. Para ulamanya menghiasi kota ini dengan nilai agama dan itu diikuti oleh penduduk yang alim beribadah pula. Itulah catatanku tentang kota tua itu. Sekarang justeru kota itu ditenggelamkan ke jurang yang paling mengecewakan. Sejarah masa lalunya dilupakan oleh warga kota yang kini berdiam diatasnya. Kini nasib, kota itu hanya tinggal papan nama saja. Tidak ada magnet yang memikat kota itu lagi. Jangan harap ribuan santri akan berlalu lalang dihadapan kita menunjukkan pesona agamanya kepada siapa saja. Jangan tunggu kedatangan ulama itu lagi, mereka telah pergi untuk selamanya. Inilah yang kusesali dan kuratapi, kenapa kota yang melahirkan ulama, sampai sekarang tak ada tak ada ulama-ulama tawadhu’ yang sudi singgah barang sejenak disana untuk menjadi penjaganya, kecuali segelintir orang yang sok mematut-matut diri sebagai ulama, padahal bukanlah ulama. Sebenarnya kota itu bukanlah layak dikatakan sebagai sebuah kota, mungkin kita pantas memanggilnya sebuah kecamatan yang setiap sudutnya bisa kita hafal dengan jelas dan begitu pula ketika kita berjalan, dari ujung keujung akan bertemu mana awal dan mana akhir yang saling berdekatan. Artinya kota itu kecil sekali. Sangat kecil. Hanya saja,lantaran, sejarah yang ditulisnya begitu teramat indah, kota itu membuat orang-orang menaruh hati kepadanya. Ia disebut kota ilmu karena disana pernah dibangun tiga Benteng Peradaban Intelektual yang tak tertandingi di zamannya.. Inilah yang menyebabkan kota kitu dikenal dimana-mana. Orang yang tidak sepakat denganku akan mengatakan lain lagi akan penyebab kota itu hingga dikenal ke mancanegara. Katanya, karena kota itu tepat berada dipersimpangan daerah hendak ke Solok, Batu Sangkar, Bukittinggi dan Ke Padang. Ini posisi menguntungkan, demikian pendapatnya. Saya tidak sepakat dengan argumen tadi, betapa pun kota itu letak geografisnya benar berada sebuah dipersimpangan, ia tidak akan memiliki makna apa-apa bila tiga benteng intelektual tadi pernah hadir disini. Cara pandang orang itu hanya bersifat bisnis sebagaimana pulau Tumasik, Singapura sekarang yang berada di persimpangan antar benua. Mungkin ia menyamakan posisi Kota yang kumaksud itu dengan kota Singapura. Jelas beda sekali, dan tidak mungkin kota yang kecil ini mampu menggeliatkan bisnis seperti-halnya Singapura sekarang. Jelas alasan itu terlalu mengada-ngada. Demi tiga benteng tadi, kecamatan tadi, pun dijuluki sebagai Serambi Mekah. Mencoba mencari kemiripan dan persamaan untuk dekat dengan kota dimana nabi Muhammad menggeliatkan dakwahnya. Istilah Serambi Mekah, untuk mencari padanan yang tepat atas kejayaan ulama menebar ilmu di kota itu. Kalau demikian, kalau bukanlah karena hadirnya ulama dan tiga benteng intelektual tadi, nasib kota itu pun tidak lebih sama dengan nagari Singgalang yang berada di punggung gunung Singgalang yang berdiri anggun menjaga Kota Padang Panjang , atau Nagari Sumpur yang berada di tepi Danau Singkarak. Kota itu memang kini tetap dibingkai dengan istilah Kota Serambi Mekah. Sekalipun begitu, tuan-tuan jangan mengira jika orang-orang disini senantiasa suka memakai jubah sebagaimana Tuanku Imam bonjol berperang gagah melawan penjajah. Atau menganggap, sholat lima waktu dikota itu pada masa sekarang, selalu disesaki jamaahnya ? Atau seakan mereka telah berdiri rapat serapat pagar yang kita pasang didepan rumah. Itu hanya omong kosong belaka, kecuali kita layak mengatakan ompong belaka. Aku bahkan menilai bahkan bila kita hitung lebih banyak jumlah tiang mesjidnya ketimbang orang yang berdiri rapat dishaf-shaf pertama dalam menghadap wajahnya ke Haribaan Allah subhanawata’la. Aku juga tidak habis pikir , kenapa kota itu sekarang sama saja dengan kota-kota lain yang menawarkan sederetan kejanggalan-kejanggalan meski namanya tetap dibalut dengan kata Serambi Mekah. Tahun baru yang diperingati,dua hari lalu saja misalnya, ada sponsor yang menggelar”tarian-tarian ngebor Inul” di suatu tempat yang tidak elok kita sebutkan. Pejabat kota itu ,mengaku tidak tahu, tapi masa’ seorang tuan rumah sendiri tidak tahu dengan acara durjana itu ? Apa gunanya itu kini digembar-gemborkan sebagai “Kota Serambi Mekah”. Aku pernah menerka, barangkali nama itu disematkan tidak lebih sebagai tameng untuk membungkus banyak kejahatan dan kesalahan yang diperbuat secara sengaja oleh warga kota atau pemerintahnya agar kita terpedaya. Kalau pun kutatap sembari lewat diatas mobil Travel, secara berani ku tegaskan bahwa kota itu sedang sakit dan sedang menunggu ajalnya yang kian sekarat. Teringatlah aku pada permisalan hari raya Qurban, dimana kota ini tak lebih seperti seekor sapi jantan yang gagah yang sedang disembelih dan dikuliti tukang jagal disana sini. Kota ini, tinggal nama, seperti halnya, Harimau meninggalkan Belangnya. **************************************************************** Pagi ini memang masih hujan lebat. Hawa dingin merasuk tulang sumsumku. Ini alasan logis kenapa aku selalu enggan keluar kamar, sehabis sholat subuh. Selimut yang berwarna hijau itu kutarik kembali untuk menyambung mimpi -mimpi aneh tadi malam. Semalam aku memang bermimpi, tentang lima orang asing. Hematku, mereka hidup dizaman yang lalu. Mungkin jauh, terbentang jarak generasi dan masa, antara aku dengan mereka. Yang membuat aku meradang adalah, kelima mereka menghakimiku dengan keras secara tiba-tiba disebuah pondok persinggahan yang aku juga heran setiap mereka seolah mengenaliku dengan akrab, padahal aku tidaklah begitu dekat dan kenal dengan semua mereka. Tapi mereka memperlakukanku seperti orang dekat. Lantang dan lancang mengatakan sesukanya, apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Itu yang menjadi beban bagiku. Begini ceritanya. Mulanya kami diam di sebuah pondok persinggahan, sama-sama bermaksud bernaung untuk menunggu hujan reda. Aku duduk paling pojok, menjarak dari kelima orang yang sama-sama sedang berteduh. Kami hanya diam tak bersuara,tapi asyik mendengar bunyi gemerincing air hujan jatuh menimpa atap seng pondok persinggahan itu. Sesekali aku melirik ke tanah bagaimana indahnya persahabatan air hujan yang jatuh ke tanah yang membuat percikan-percikan indah. Aku melihat bagaimana rumpun bambu berayun-ayun meliuk-liuk ditiup angin seirama yang sedang bergelut sesukanya. Tiba-tiba ditengah lamunan, suara keras menyergapku seketika. Aku tersentak. “ Kamu harus tahu, anak muda ! kota yang selalu kau lewati itu,memendam hawa agama, dan perjuangan. Dahulu, kami semasa berjuang, kota yang kau ratapi itu telah membuka mata dunia.” seseorang yang aku lihat persis seperti buya Hamka yang perdana membuka percakapan. “Maaf, Maksud Bapak ?”Aku iseng memberikan umpan balik untuk membangun komunikasi sembari mencuri pandang kepadanya. Siapa tahu aku bisa berkenalan dengan mereka walau sesaat. “Iya, di surau Jembatan Besi itu, kami telah memberikan inspirasi untuk sebuah kebangkitan ummat yang kala itu dicengkram penguasa Belanda. Pejuang-pejuang disana itu adalah para ulama ternama. Ia dibenci oleh Ulama Mekkah karena modernisasi yang mereka balutkan kepada halaqoh pengajian mereka. Kendati begitu, negeri para nabi, Mesir pernah terpesona dengan halaqoh pengajian satu lagi, yang kemudian menegakkan harga diri muslimah lewat Diniyyah Puteri yang disambung Rahmah El Yunusiyyah, adinda tercintaku.”Timpal seorang yang perawakannya seusiaku, yang berbusana lengkap dengan dasi dan pentalon jas lamanya. ‘Apakah tuan, adalah engku Zainuddin Labay, sipenulis buku Bahasa Arab pertama di kota yang diapit dua gunung ini ?” tanyaku penasaran. “Tidak penting kau mengenalinya , Anak muda! Aku tahu, kau telah membuka diary-diary kami dengan tulus. Kami melihat engkau, begitu rajin menemui Anak Haji Rasul di rak buku perpustakaan dan melahap wasiat peradabannya. Kau pun asyik membolak-balik kenangan kami saban hari.Perlu kami sampaikan, sesungguhnya perjuangan kami belumlah selesai, hanya saja Tuhan memberikan takdir lain yang harus kami terima dengan lapang dada..”Seseorang paling ujung menimpali pertanyaanku. “Aku tidak paham, maksud Tuan-tuan. “sanggahku, memalingkan wajah hingga bertatapan dengan mukanya. Baru saja dialog aku seolah diserang. “Wahai ananda,” seorang wanita, diantara mereka menyapaku dengan lemah lembut dan itu amat mengejutkanku. ” Kau, telah melelahkan diri membaca apa yang terjadi dimasa silam tentang kami dan kota ini. Kalau dituliskan teramat panjang. Kami perlu mengingatkan bahwa disini kami telah menggoreskan tulisan sejarah pengabdian untuk ummat dengan cara dan metode yang berbeda. Semua itu untuk dakwah ilalallah. Menyambung lidah nabi untuk menerangi bumi. Kebaikan bangsa dan Negara bersendikan kebaikan wanita yang ada di dalamnya. Itulah yang kami lakukan” “Lalu, ? “ Aku kian penasaran. ” Semestinya kaulah melanjutkan apa yang kami lakukan sebelumnya untuk disambung dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang..itulah tugasmu..”. Timpal seseorang yang aku lihat ia memiliki karisma tersendiri diantara mereka. Aku diam, mencoba untuk memahami setiap kata demi kata yang terucap dari mulut orang-orang yang aku tidak begitu mengenalnya. “Aku…harus..melanjutkan perjuangan tuan-tuan …” lidahku kelu mengulangi ucapannya dengan nada penuh keheranan. “Terus terang, aku tidak bisa, tuan-tuan dan aku belum tahu siapa sesungguhnya tuan-tuan” Aku menyerah. “Seorang pejuang tidak mengenal kata menyerah !... Nak percayalah….kau harus bisa !” . Mereka pun berlalu satu persatu meninggalkan ku. Aku tersentak seiring azan subuh. Mimpi malam itu menyita pikiranku. *********************************************************************** Padang Panjang, aku datang mengunjungimu dan mencoba mengenali setiap sudut kota demi sudut kota ini. Kedatanganku bukanlah sekedar persinggahan lewat seperti selama ini, tetapi mencoba mencari makna atas pesan lima orang dalam mimpi tadi malam yang membuat aku kian penasaran. Mulanya aku berhenti di Simpang Delapan, pintu masuk ke kota itu dari arah kota Bukittinggi, dan bertanya kepada seseorang yang usianya sebaya ayahku, di dekat pangkalan ojek yang bersebelahan dengan Pos Dinas Perhubungan kota itu, kira-kira kalau ditaksir ia berusia diatas 50 tahunan, “Maaf, Bapak, dimanakah pernah Buya Hamka memberikan pengajian dikota ini ?” Aku memberanikan diri bertanya. “Oh ya.. Aku juga minta maaf tidak bisa memberikan jawaban kepadamu, anak muda ?, Sebab aku tidak begitu mengenali sejarahnya. Itu adalah masa lalu yang memang tidak ada pengaruhnya untuk masa sekarang.” Menjawab seenaknya sambil menghirup rokoknya dengan nikmat. “Bukankah sebuah hal yang memiriskan kalau Bapak sendiri tidak kenal dengan sejarahnya Buya Hamka, apalagi Rahmah El Yunusiyyah, Zainuddin Labay, A.R Sutan Mansyur dan Abdul Hamid Hakim sendiri. Bagaimana Bapak akan kenal dengan Thawalib, Diniyyah Puteri, dan Kauman yang pernah mereka dirikan” Aku mencoba mendebatnya . “Apa peduli dengan mereka !” Ia agak tersinggung dengan hunjaman kenyinyiranku. “Nak, kalau kau ingin mengenali nafas kota ini dari dekat, pergilah kau, ke tempat Sate terkenal di kota ini. Disilaing Bawah, kau akan tahu betapa kota ini telah berubah. Kau akan tahu betapa nikmatnya makan sate yang dagingnya empuk, disajikan dihari dingin dalam keadaan panas. Kau tahu, itulah jati diri kota ini, bukan tempat-tempat masa lalu itu.” Ia agak marah sebab nadanya sudah meninggi menghajar pernyataanku. “Lantas apakah sisa dan puing dari karya mereka yang membuat Al Azhar terpesona kepada Diniyyah Puteri,sekolah yang saya maksud itu masih ada sisa kejayaannya”.Aku memperbaiki pertanyaan dengan harapan aku bisa meredakan kemarahannya. “Aku tidak mau peduli dengan sekolah-sekolah itu ! Bagiku, kota ini tidak harus berterima kasih kepada sekolah itu. “ Ia seenaknya mengelantur membenturkan kalimatnya kepada pertanyaanku. Ia juga masih membanggakan kota ini dengan arena Water Boom yang didirikan Pemerintah kota. Ia juga menyanjung Rumah Sakit Kelas International yang kini hadir di kota ini. Ia bahkan kelihatan gembira manakala dikota ini dibuat jembatan layang yang sedang terbengkalai penyelesaiannya. Aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan orang itu. Aku pun melanjutkan perjalanan mencari puing-puing karya lima orang tokoh. Yang aku kian heran, setiap orang yang ku tanya, selalu memberikan jawaban yang sama dengan bapak yang pertama kutanya tadi. Singgah disebuah mesjid, disamping sekolah yang didirikan Rahmah el Yunusiyyah yang akhirnya kudapati juga setelah semua orang yang kutanya tidak mau peduli atas apa ayng kucari. Aku menatap dari jauh. Membayang-bayangkan masa silam diawal tahun 1900, orang-orang ramai datang kemari. Aku hanyut dalam halusinasi. Terlelap untuk sekian lama lantaran kepenatan beradu argumen dengan orang-orang yang kutemui sejak tadi pagi. ************************************************************* Tiba-tiba segerombolan ibu-ibu bersama anak-anaknya datang ke rumah nan terbilang sederhana yang didirikan dari bambu dimana seseorang perempuan sedang menunggu mereka didepan pintu. “Assalammualaikum, apa kabar Nanisah? Apakah kau sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu sehingga kau bebas datang kemari untuk menambah pelajaran kemarin..” Orang yang ditanya menjawab.” Sudah, Kak Amah, tadi aku sudah minta izin pada suami. Walau agak keberatan, dia tetap megizinkan pesannya jangan lama-lama, kata orang kampung lain nanti, seorang padusi keluar rumah terlalu lama, apalagi sudah berkeluarga. “ Satu persatu, ibu –ibu datang bersama anaknya ke rumah itu. Orang-orang sudah sesak penuh, hingga melumer ke luar rumah. Tiba-tiba seseorang, ibu, ditarik-tarik oleh suaminya ketika hampir menyentuh pintu dirumah yang didalamnya ibu-ibu sudah banyak untuk memulai pelajaran Tambahan. “Seorang isteri harus dirumah, pantang baginya belajar dan mengikuti apa yang diceramahi si Rahmah itu. Malulah kau pada engku datuk, awak perempuan tapi ingin bergaya modern-modren seperti anak-anak Hindia Belanda. Tempat awak di rumah sana,cepat pergi. “hardik seorang laki-laki kepada perempuan tadi. Pemandangan itu membuat orang-orang didalam rumah hiruk dan keluar melihat apa yang terjadi. “ Biarlah Allah, merahmati wanita tadi, karena ia ingin belajar agama, tapi suaminya tidak melepaskan karena pikiran usang masih dipakainya. Mari kita lanjutkan pelajaran barusan, yang saya bacakan.” Ajak sosok wanita yang disapa Kak Amah tadi menenangkan mereka. ****************************************************************** Ashar pun tiba. Satu persatu jamaah datang. Saya pun membereskan diri, memperbaharui wudhu untuk menunaikan sholat jamaah. Ba’da ashar, dari seberang jalan tepatnya di depan Mesjid Agung Ashiliyah, seorang kakek-kakek tersenyum menatap diriku yang masih berdiri bingung di makam Ibunda Rahmah. Ia sepertinya mengamatiku sejak tadi. Aku tidak kenal beliau, tetapi dari caranya memandang dan bersikap aku, yakin ia adalah bukan orang sini sebab ia pun sama-sama pendatang yang memiliki maksud yang sama. Disebelahnya aku, melihat tas bawaannya yang begitu banyak. Mungkin ia sedang beristirahat sama seperti tujuanku “Jadi seberapa besarkah pengaruh ketiga sekolah itu terhadap kebangkitan Ummat, pak dan terhadap masa depan kota ini ?” Aku merasa ia adalah orang yang punya pemahaman sejarah yang memadai. *********************************************************************** Dia terdiam sejenak. Menarik nafas dan sama –sama menatap ke makam Ibunda Rahmah untuk sekedar berziarah. “Aku katakan padamu, apa yang akan terjadi bila Haji Rasul tidak akan bermukim di Padang Panjang, dan membesarkan Thawalib, kota ini tidak akan pernah di kenang kebesarannya. Sejarah Kota yang dijuluki Padang Panjang Ini pun akan berbicara lain manakala Rahmah tidak mendirikan sekolah khusus Puteri yang membuat grand syaikh Al Azhar takluk dan jatuh hati kepada Diniyyah Puteri sehingga, Al Azhar pun diam-diam membuat sekolah khusus Puteri pula setelah terinspirasi dari seorang Rahmah. Tentu saja, dinding kokoh Al Azhar runtuh manakala Rahmah pun di semati sebagai Syaikah (doctor Honororis causa) pertama dan terakhir dari universitas islam tertua itu. Ia pun menyambungnya lagi. “ Demikian, Muhammadiyah sepeninggal Pendirinya Ahmad Dahlan di Yogya tidak akan mampu bertahan kalau bukan A,R Sutan Mansyur yang merupakan kakak Ipar Hamka menata perjuangan “kaum muda” dari Kauman Padang Panjang. Buya Hamka pun panjang pula nostalgianya di Kota Ini. Ada pelanjut kedua Perguruan Thawalib, yakni Angku Mudo Abdul Hamid Hakim, yang bukunya masih dibaca oleh santri di pulau jawa sampai sekarang. Sebelum generasi itu ada Abdullah Ahmad, Adam Balai-Balai,Daud Rasyidi, dan banyak lagi ulama-ulama yang menanam bibit pergerakan dan kaderisasi tokoh bangsa. Inilah Kota dimana ulama banyak hadir dan singgah disini. “ “Maaf, bapak, siapa ya, dari mana asal bapak ? “ Aku lupa menanya identitas dirinya karena asyik berdiskusi dengannya panjang lebar tentang kehebatan tiga sekolah itu dimasa lalu. “Anak Muda ! aku adalah orang yang bertemu di Pondok persinggahan lalu, manakala aku tidak sempat berdialog denganmu, walau diantara kawan-kawanku telah mengajakmu berdiskusi untuk tidak berapa lama kala itu. Kini aku menggenapkan jawaban nan lalu, sebab kau telah pergi kemari, dan kuberitahu tentang rahasia kota yang hampir mati ini, penduduknya tidak peduli lagi dengan harga diri kota ini yang pernah menyemai banyak ulama ternama!” Seseorang membangunkanku, maghrib telah tiba. Aku tidak tahu, kalau zikirku lepas ashar tadi memperpanjang mimpiku pada episode selanjutnya. Aku tahu jawabannya, betul kota ini hampir mati, karena saham sejarahnya kian disayat-sayat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. ************************************************************** Kepala Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.
|