Belum terdaftar ?


 
artikel PDF Cetak E-mail
, di Upload oleh emidumiati   
Saturday, 02 January 2010

Membedah  Peran  Lapau dan Surau Masa Lalu

 (Benarkah  Potensi  Orang Minang Melejitnya Dari Sini ?)

                                                        Oleh Ahmad Rifa'i

           

            Tidaklah benar lapau telah menjadi media peningkatan skill komunikasi orang minang termasuk seni dalam berdebat.  Faktanya, Agus Salim tidaklah menghabiskan waktunya dilapau untuk memperlihai seni diplomasi silat lidahnya. Hamka juga bukan pula masuk tipikal ini. Yamin, Sutan Syahrir, Moh. Natsir,  dan tokoh-tokoh bangsa dari ranah minang tidaklah melakukan hal yang sama. Lantas kenapa lapau diyakini sebagai punya saham sejarah masa lalu, yang membangkitkan potensi diri dan skill komunikasi orang-orang minang, yang selalu kita  dengar sampai sekarang   ?

            Kenyataan lapau saat ini, tidaklah pernah menghasilkan orang-orang hebat dizamannya, kecuali, membentuk satu deretan generasi pemalas (termasuk pegawai pemerintah), yang menghabiskan harinya dilapau, sepanjang hari. Mutu diskusi dan perdebatan tidaklah sebagus yang dikira, kecuali membicarakan hal-hal yang tidak ada faedahnya.  Lapau akan menjadi sumber kekuatan bila, para pengunjungnya adalah para pejabat yang berposisi pengambil kebijakan publik. Nyatanya, lapau tetap dihuni oleh rakyat-rakyat badarai yang tidak pernah bersentuhan dengan isu perubahan atau yang memulai isu perubahan itu.

            Lapau, pada masa sekarang, mungkin sama masa dulunya, adalah simbol dari kemalasan dan pusat kebodohan generasi kita, kendati tidak semua lapau seperti itu. Dikatakan demikian lantaran, anak-anak muda dan orang tua, dikampung-kampung  lebih menghabiskan harinya secara sia-sia dilapau, kendati tetap  ada yang memanfaatkannya sebagai ajang silaturahmi.   

            Kita baru menyadari bahwa kemajuan orang barat, bukanlah berangkat dari intensitas kehadiran mereka dicafe-café yang ada, kecuali mereka menghabiskan waktu di perpustakaan dengan melahap bertumpuk-tumpuk buku pengetahuan dan hadir diarena debat atau diskusi berbobot tinggi.   Kita juga  kerap keliru membaca sejarah, tokoh-tokoh besar dari negeri ini, ternyata separo hidup mereka dihabiskan untuk membaca banyak buku, baik dari luar negeri maupun dari orang-orang sebelumnya. Dari kekayaan pengetahuan itulah mereka berkembang dan  menjadi kaum intelektual.  

            Lapau, konotasinya memang negatif bahkan, jadi ajang untuk banyak aneka permainan. Mulai dari domino, catur, remi  hingga kyu-kyu. Kepenatan seharian bekerja disawah dan ladang yang dirasakan kaum lelaki dikampung-kampung, lapaulah yang menjadi sasaran terminal peristirahatan jiwanya, walau untuk ini, uangnya terkuras lagi.

 Lantas apakah yang dicari dilapau kalau bukan soal  kesenangan ? Semuanya sepakat menjawab soal  persahabatan dan silaturahmi, tapi tahu tidak, yang memetik keuntungan dari pertemuan itu adalah sipemilik lapau sendiri. Kalau ada yang mengatakan disana akan terjadi tansaksi bisnis, walaupun ada, kecil kemungkinan terjadi. Dari sisi keuntungan,  tetaplah para pengunjung tidak mendapatkan apa-apa kecuali dahaganya hilang setelah memesan berbagai minuman.

Dominan fungsi lapau tidak lain sebagai tempat hura-hura dan foya-foya, apalagi saat ada pertandingan atau liga sepakbola nasional atau Piala Dunia, kebersamaan menonton dilapau semakin seru dan ini merupakan kenikmatan tiada duanya. Heboh dan bersorak bersama-sama  ditemani bergelas-gelas aneka minuman. Dari yang halal hingga yang haram.

            Kalau bukan lapau yang mengasah skill komunikasi, debat dan menambah pengetahuan orang minang, boleh jadi, surau tentunya media untuk itu.  Benarkah demikian ? Untuk menjawab ini setidaknya, kita harus melihat, sejauhmana keberadaan surau-surau menampung gagasan idealisme dan semangat pengamalan ajaran agama yang dilalui semua tokoh-tokoh nasional dari negeri ini. Apakah disurau, diberikan kebebasan berpikir yang positif perspektif agama, atau disana hadir banyak buku yang akan dilahap mereka atau disurau, hanya toh  untuk mempelajari agama semata, tanpa ada diskusi timbal balik ?

  Masa dahulu,  surau kalangan tradisional, (kecuali surau kaum muda), model  transfer pengajaran agama hanya bersifat  satu sudut pandang dari sang guru. Kebenarannya pun  mutlak alias tidak dapat disanggah, sebab Guru atau ulama adalah sesuatu yang harus dihormati.  Konsep ini berlaku bagi kalangan ulama tua yang berpaham tradisional yang juga mengekang kebebasan berpikir.   Agak berbeda dengan cara yang dilakukan oleh ulama muda, yang membawa semangat pembaharuan agama.

            Memang yang menampung  gagasan intelektual itu adalah ulama muda minang yang telah tersibghah(terwarnai)  dengan ide pemikiran pembaharuan yang disajikan Jamaluddin Al Afghan, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.   Ulama-ulama minang itu dikenal keras menentang praktek bid'ah yang dilakukan ulama tradisional. Mereka juga vokal bertanya kepada gurunya soal ini, sebagaimana   Abdullah Ahmad, pernah bertanya kepada gurunya Syekh Ahmad Khatib di Mekah tentang thariqat, yang marak di Minangkabau. Kita akan mendapatkan mereka itu adalah orang-orang yang kritis kepada lingkungan dan juga kepada  gurunya.  Tentu saja kritis itu bukan untuk menjatuhkan, namun untuk mencari jawaban atas fenomena yang berada disekitar mereka.

            Kalau kita menyandarkan kebangkitan pemikiran ulama islam pada surau-surau kaum muda, yang mencoba meluruskan praktek beribadah ummat yang telah tersimpangkan,  maka  sangatlah tepat surau mereka kita sanjung.   Besar kemungkinan, hari-hari mereka lebih banyak membaca buku atau kitab-kitab hingga cakarawalanya luas. Majalah Al-Manar dan Al Urwatul Wustqa yang terbit dimasa itu di Mesir, adalah makanan empuk para pemikir islam, yang haus akan ide dan semangat  pembaharuan.

Mereka berdiskusi dan berdebat serta mengambil kesimpulan yang sama. Kebangkitan islam harus dimunculkan kembali ditengah keterjajahan dunia islam di abad 18 dan 19.   Alquran bukan untuk dibaca-baca, tetapi untuk dipraktekkan. Ulama dan ummat  tidak boleh mengasingkan diri(uzlah).  Tidak boleh pula menjauh dari masyarakat dan merasa cukup dengan ibadah thariqat atau kesufi-sufian.  Ulama juga harus peka dengan keadaan zaman dan mengambil tindakan yang bagus untuk menghadapi zaman.

  Sebaliknya, jika  kita sandarkan kepada surau  ulama kaum tua dalam konteks kebebasan berpikir, kita tidak menemukan  dinamika diskusi yang hebat, kecuali semua itu diterima murid dengan apa adanya. Jadi, cara ini miriplah seperti gaya para dosen –dosen kita dikampus yang mengajari mahasiswanya dengan konsep satu arah; tiada debat dan tiada dinamika pembelajaran.  Jika seperti itu pengajaran dosennya, mahasiswa berkualitas seperti apa yang akan dihasilkan?

            Sejauh penelusuran penulis terhadap biografi ulama-ulama ternama minangkabau, ternyata ulama yang harum dan menjadi kenangan sejarah bagi orang-orang sesudahnya, adalah dominan dari ulama-ulama minang berjiwa  pembaharu tadi.   Ejalah nama-nama ulama, kita akan menemukan naman-nama seperti Haji Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka),  A.R Sutan Mansur, Hamka, Abbas Abdullah, Muhammad Thaib Umar, Mahmud Yunus dan M. Natsir, adalah ulama-ulama yang berjuang dan pembaharu dengan kecendikiawanannya.

            Surau kaum muda bisa dihitung dengan jari, sedangkan surau milik kaum tua bahkan tersebar merata disemua tempat di ranah minang ini. Tapi sekali lagi, ulama kaum muda itu justeru jauh melejit pamornya ketimbang ulama kaum tua yang memegang teguh thariqat, tawasul dan menutup rapat pintu ijtihad.             

            Surau memang basis awal pembinaan agama masa kecil dari semua tokoh diatas.  Semua mereka tidak pernah melewatkan pengajian disurau. Yang perlu dipahami, proses di surau itu  hanyalah ibarat  sebuah besi baja yang diolah oleh tukang besi (gurunya) yang dibentuknya menjadi berbagai senjata tajam. Dimana digunakan dan siapa yang menggunakan, akan menentukan perjalanan senjata tajam itu dikemudian hari.

Diantara mereka ada yang sukses dan ada yang tenggelam dalam sejarah. Mereka yang tenggelam boleh jadi karena tidak pandai menggunakannya. Sehingga pisau intelektualnya tersimpan dengan rapi di dalam perjalanan sejarah alias tumpul terus. Ada yang pandai menggunakan senjata tadi dengan baik, sering diasah,  lalu  memfungsikannya secara cekatan. Itulah mereka-mereka yang menebaskan pisau intelektualnya disemua zaman. Ia menebas semak-semak  kebodohan, menebang pohon-pohon kezaliman dan meruntuhkan  paham kejumudan, bi'dah, tawasul dan segala praktek ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

            Lantas apakah para tokoh-tokoh itu sampai dewasa tetap berada di surau –surau tadi ?  Tentu tidak, mereka hanya berinteraksi tidak kurang tiga tahun lamanya bahkan ada yang lebih singkat dari itu. Hanya saja setelah selesai  belajar di Surau tersebut kepada seorang ulama besar,  kemudian mereka memasuki alam yang baru dengan modal dasar yang telah dimiliki, yakni membawa pisau analisis intelektualnya yang akan diarahkan kepada zamannya.  

            Boleh jadi, yang membesarkan  sisi kepahlawanan orang minang itu adalah, kesanggupannya untuk menerima kenyataan hidup dan belajar dari kehidupan itu sendiri. Prinsip alam takambang jadi guru boleh jadi sesuatu yang menginspirasinya untuk tetap bertahan.

            Meski demikian, Surau, disamping tempat belajar ilmu agama, juga menjadi tempat penggemblengan mental dan spiritual mereka dibawah asuhan ulama besar pula. Kesuksesan murid-muridnya dikemudian hari, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh guru mereka (ulama ).  Sebutlah Haji Agus Salim, Ahmad Dahlan, Hasyim Ashary, Djamil Djambek, Abdullah Ahmad, Haji Karim Amrullah, Ahmad Taher Jalaluddin, Abbas Abdullah adalah murid seorang ulama besar minangkabau yang telah sukses menanam pengaruh kuat di dada muridnya yakni Syekh Ahmad Khatib.  Inilah ulama mazhab Syafii yang menggelorakan semangat pembaharuan kepada murid-muridnya di Masjidil Haram diawal abad 19.

Demikian juga, dengan Ahmad Rasyid. Sutan Mansur,(tokoh Muhammadiyah), dan Angku Mudo Abdul Hamid Hakim  adalah murid dan orang kepercayaan  Haji Rasul (ayah Buya Hamka).   Sementara Hamka, adalah didikan dari Angku Mudo Abdul Hamid Hakim,  Zainuddin Labay,  H.R Fachruddin dan ulama lainnya.   Mohammad Natsir, adalah didikan dari Ahmad Hasan, tokoh Persis Bandung dan Haji Agus Salim tokoh Syarikat Islam.  

Ternyata, kekuatan surau itu adalah, berangkat dari kehadiran seorang ulama besar, yang melakukan kaderisasi ulama kepada binaannya.  Surau tidaklah akan bermakna apa-apa, bila tidak ada ulama besar yang ikhlas hadir disana. Nasibnya tidak obah dengan  sebuah  sangkar tanpa kehadiran seekor Burung.  Sunyi, hening dan tidak menarik, karena tidak ada yang berkicau mendendangkan nyanyian perubahan.   

 

Kepala Humas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.  

 

               

 
< Sebelumnya   Sesudahnya >

Jumlah Anggota

250 registered
0 hari ini
4 minggu ini
11 bulan ini
Terakhir: TyncUtinc

Pengunjung Online

Saat ini terdapat 15 pengunjung online

Kunjungan ke :

Today29
Yesterday24
Week162
Month332
All25462